
Ketika Tuhan menghembuskan nafasku diatas belukar raya dunia,
Tak memiliki apa-apa,- hanya jiwa dan jasad saja yang hanya mampu berlari, meniti lingkar bumi.
Ketika Tuhan meletakkan hatiku, kiranya aku mampu menelaah lebih jauh dari apa yang terjadi dan apa yang kurasakan,
Layaknya butiran pasir dipesisir pantai,- begitu halus dan kerapkali terhempas lalu lalang gelombang.
Disana jua aku dipertautkan dengan bunga harap dan mimpi yang bertebaran menyandingi debu fana,
Laksana gita dari untai hati yang diberi merajai semua ikhwal diri.
Ketika Tuhan menyelimuti rasa cinta pada hatiku, - mencoba membimbingnya mendekati tungku api dikala dingin menyergapku.
Bisiknya memenuhi aura sekitarku,
Menyerupai pijar menerangi gelap galauku.
Hati adalah bejana kosong untuk ditempati,
Dia adalah cermin tempat kita memandang lebih dekat , menjadikan rasa suka dan benci, menjadikan kedukaan tatkala bersedih.
Dia menjadi teduh pohon layaknya disebuah pertamanan tenang
-yang mempu meneduhkan tatkala surya panas membakar diri.
Tuhan menjadikan jiwaku untuk memiliki rasa pada hati yang dibalut ketulusan,
Mengajarkan untuk memahami bentuk rupa ikhlas disetiap putar roda dunia.
Agar damai menjadi kongkret adanya.
Ketika Tuhan menghembuskan nafasku diatas belukar raya dunia,
Aku tak memiliki apa-apa,- hanya jiwa dan jasadku saja yang hanya mampu berlari, meniti lingkar bumi.
; itu saja !
( a.r.i.e / BILIK )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar