Jumat, 02 Maret 2012

BILIK



Ketika Tuhan menghembuskan nafasku diatas belukar raya dunia,
Tak memiliki apa-apa,- hanya jiwa dan jasad saja yang hanya mampu berlari, meniti lingkar bumi.

Ketika Tuhan meletakkan hatiku, kiranya aku mampu menelaah lebih jauh dari apa yang terjadi dan apa yang kurasakan,

Layaknya butiran pasir dipesisir pantai,- begitu halus dan kerapkali terhempas lalu lalang gelombang.

Disana jua aku dipertautkan dengan bunga harap dan mimpi yang bertebaran menyandingi debu fana,
Laksana gita dari untai hati yang diberi merajai semua ikhwal diri.

Ketika Tuhan menyelimuti rasa cinta pada hatiku, - mencoba membimbingnya mendekati tungku api dikala dingin menyergapku.

Bisiknya memenuhi aura sekitarku,
Menyerupai pijar menerangi gelap galauku.

Hati adalah bejana kosong untuk ditempati,
Dia adalah cermin tempat kita memandang lebih dekat , menjadikan rasa suka dan benci, menjadikan kedukaan tatkala bersedih.
Dia menjadi teduh pohon layaknya disebuah pertamanan tenang
-yang mempu meneduhkan tatkala surya panas membakar diri.

Tuhan menjadikan jiwaku untuk memiliki rasa pada hati yang dibalut ketulusan,
Mengajarkan untuk memahami bentuk rupa ikhlas disetiap putar roda dunia.
Agar damai menjadi kongkret adanya.

Ketika Tuhan menghembuskan nafasku diatas belukar raya dunia,
Aku tak memiliki apa-apa,- hanya jiwa dan jasadku saja yang hanya mampu berlari, meniti lingkar bumi.

; itu saja !

( a.r.i.e / BILIK )

Sabtu, 11 Februari 2012

BELANTARA


Belantara malam yang angkuh dengan kelamnya hitam,- tak berbatas.
Bintang seperti pasir bertebaran, mengapung dilangit,- seperti genit mengerlip malu-malu

Aku ada
Disudut jalan dibawah samar-samar redupnya bulan,
Menapaki jalan setapak diatas bumi berpetak-petak
Melewati rintang ditengah seruan dengki layaknya nada mengalun benci dari jiwa-jiwa tak berhati
; aku ada.

Apakah kau tahu
Begitu laranya aku ? Dalam belantara dunia yg penuh dengan hingar bingar menikam rasaku ?

Bumi berpetak-petak
Seperti teka-teki silang
- yang mengharapkan kita menemukan jawabannya.

Bintang seperti pasir bertebaran, mengapung dilangit,- seperti genit mengerlip malu-malu
Dan sulit aku merengkuhnya,
; karena mimpi-mimpiku terlalu dini.

Aku bukanlah cerita,
Hanya bagian dari lembaran kisah-kisah hidup,
Yang menapaki jalan setapak diatas bumi berpetak-petak
Melewati rintang ditengah seruan dengki layaknya nada mengalun benci dari jiwa-jiwa tak berhati
; aku ada.

( a.r.i.e )

Rabu, 28 Desember 2011

LENTERA FAJAR

Hanya satu
Tak terdua,
Didalam jiwa menapaki fana,

Tak mengeluh,- meski berpeluh
Airmata menjadi ikhwalnya kisah,
Disetiap pacu waktu yang mendera.

Disetiap santun yang mengalir menjadi do'a dalam diri,
Perlahan, perlahan, - tanpa henti.
; untuk kita.

Hanya satu
Tak terdua,
Didalam jiwa menapaki riaknya fana,
; ada tegar yang tak pernah pudar.

Dialah lentera kesejukan lara,
Yang takkan pernah menyesali rasa yang tercurah tak percuma,

Dialah kedamaian,
Yang selalu melupakan kesedihannya,
Untuk jiwa-jiwa yang dimanjakannya.
; meski waktu merentakannya .

Airmata menjadi ikhwalnya kisah,
Disetiap pacu waktu yang mendera.
Ada bijak terpancar disetiap guratan wajah yang mulai mengerut.

Dialah lentera kesejukan lara,
Yang takkan pernah menyesali rasa yang tercurah tak percuma,

; dialah ibu !

( a.r.i.e )

Kamis, 22 Desember 2011

EdanE - Evolusi.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - Tracking

EdanE - Evolusi.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - Tracking: EdanE - Evolusi.mp3

Senin, 28 November 2011

KULDESAK II

Berlarian didalam belantara dunia
Banyak duri-duri tajam merobekku,
- luka disekujur tubuh, perih.
Tak terlihat

Sepoi angin meniup
Hingga raga kembali dan segarkan aku,
Luka terlupa,
Menggigil saja disekujur tubuh

Tak kupahami aura dunia
Luka perih, hangus terbakar matahari,
Semua menjadi teman dalam perjalanan.

Masih berlarian didalam belantara dunia
Banyak duri-duri tajam merobek dan mencabik,
- luka disekujur tubuh, perih.
Tak terlihat.
Mentari tinggal seperempat membakar.

; aku terkapar dalam pencarianmu .

( a.r.i.e )

KULDESAK II

Berlarian didalam belantara dunia
Banyak duri-duri tajam merobekku,
- luka disekujur tubuh, perih.
Tak terlihat

Sepoi angin meniup
Hingga raga kembali dan segarkan aku,
Luka terlupa,
Menggigil saja disekujur tubuh

Tak kupahami aura dunia
Luka perih, hangus terbakar matahari,
Semua menjadi teman dalam perjalanan.

Masih berlarian didalam belantara dunia
Banyak duri-duri tajam merobek dan mencabik,
- luka disekujur tubuh, perih.
Tak terlihat.
Mentari tinggal seperempat membakar.

; aku terkapar dalam pencarianmu .

( a.r.i.e )

Sabtu, 26 November 2011

B I R U

Aku mengembara ditengah-tengah angin yang berhembus,
Membawaku melintasi waktu dan menghentikanku diatas taman pelataran sebuah hati,
Aku sendiri !

Sepekan waktu bagaikan kijang melesat tinggalkan aku,
Rupa ruang dalam benak seakan berceloteh,
Gaungnya memantul ditiap dinding ruang dan menerobos menusuk raga seorang hawa.

Cinta dan hati adalah sepasang kekasih,
Kehidupan yang mereka jalin adalah perasaan-perasaan itu sendiri,
Kesedihan yang mereka lalui adalah hempasan raga dari pikiran mereka sendiri,
; namun mereka tetap sepasang kekasih.

Ini persembahan hati,
Saat lenguh dan lusuh jiwa saling memahami,
Tatkala aku menjadi kau,
- kau menjadi aku.
Keduanya pun melebur menjadi kasih.

Aku masih mengembara ditengah-tengah angin yang berhembus,
Melintasi waktu dan menghentikanku diatas taman pelataran sebuah hati,

Rupa ruang dalam benak seakan berceloteh,- keadaan merubah segala cara dan menikam segala benci.

Inilah cinta,
Kehidupan terjalin adalah perasaan-perasaan itu sendiri,
Kesedihan dilalui adalah hempasan raga dari pikiran mereka sendiri yang tengah menangis dan berpesta-pora airmata.

Tapi cinta adalah apa yang ada dalam pikiran kita
-yang terucap dari bahasa kalbu dan meresap melalui pori-pori mereka dengan ketulusan.

Ia bagaikan teduhnya pepohonan
Ia bagaikan cairan anggur yang terkadang memabukkan,
; semua hanya mampu kita resapi saja.

( a.r.i.e )