Sabtu, 17 Juli 2010

BELUM ADA JUDUL


Jika ini bukanlah suatu hal yang terjadi
- akankah terlupa semua impian ?
atau baiknya berhayal hingga waktu saja
datang merenggut hati dan jiwa-jiwa hidup
bagai pepohonan kering dan tumbang ,

Mungkin pula bukan sebuah harap,
Karena raga sudah tak berarti apa-apa
Bagai sisa yang terlupakan...

Mentari yang tersapu mega
dalam bayang tak kasat mata,
Dedaunan yang jatuh ke tanah
- menjadi kering dalam kecap sang waktu,

Aku melihat sekitarku
berkata dalam bahasa diam,
Tanpa aksara terwujud,
Hanya terpaku dan mengagumi diam

Aku lihat pula kawanan walet
yang bermain menggelayuti mega senja,
Mencumbui laut dan menerkam mangsanya
; dia mampu bertahan, dia mampu mewujudkan hidup
dalam kehidupannya...

Jika ini bukanlah suatu hal yang terjadi
- akankah terlupa semua impian ?
atau baiknya berhayal hingga waktu saja
datang merenggut hati dan jiwa-jiwa hidup
bagai pepohonan kering dan tumbang ,

Begitu aku mendekap seribu inginku
Yang pernah dicuri kawanan waktu berlalu,
Tentang cinta,
Harapan,
-dan kepastian jiwa yang mencintai,

Kaukah digaris senja ?
Diatas tapal batas berpayung mega mengelam ?
Yang memanggil sayup ragaku menembus dimensimu?
Bercadar hangat dalam simpul senyum kedamaian...

Bilakah kau pahami sesuatu yang tersembunyi
dibalik celah hati menyanjungmu,
Dan cinta akan terjelang mengitari kita...

Ini bukan mimpi dan tragedi hati,
Ketika seruanku mengetuk dinding peraduan senja hatimu,
Menyalakan perapian dalam tungku penuh kedamaian,

Bukan pula mimpi yang aku berikan,
Dan aku meyakinkan hati,- seperti aku tetap terus
menjagakan hatimu dari hati yang akan menodaimu,

; Dan itu aku untukmu !



a.r.i.e
18 July 2010 at 01.30am

Selasa, 13 Juli 2010

JENGAH



Sudah,
Aku sudah berlari menelusuri pelataran ini
-hingga titik akhir lelahku,
Tak peduli,
; karena hidup memang harus seperti ini.

Sudah,
Aku sudah melepaskan sejuta ragu dan penatku
-akan masa yang sulit dimengerti,

Semuanya telah aku tanggalkan
-telanjang diatas hamparan tanpa batas panjang.

Aku kubur segala rindu
Yang dulu pernah meraja dan merayu,
Yang dulu pernah mengukir kalbu
; dalam bahasa bermahkota cinta.

Aku telah puas merasakan dosa,
Membersit luka pada dinding seorang hawa,
Yang dulu mengajakku larut dalam drama satu peran
miliknya,
; aku terbuai.- dan sungguh aku sesali.

Bukan salahmu,
Bukan pula inginku,
Meski kita sama sekali tak memahami arti
apa yang terjadi...

Sudahlah,
Aku
Kau
-atau apapun
; adalah kenangan lalu.

Kenangan masa kegelapan,
Penuh kepekatan dalam cakrawala bertabur hitam,

Perbaiki saja segala keluh kesah dan gelisah
yang dulu pernah membakar hati kita tak bersisa,
Agar dosa ini mampu kita leburkan,
Mampu kita kuburkan,
; tanpa berulang kembali.

Sudah,
Aku sudah melepaskan sejuta ragu dan penatku
-akan masa yang sulit dimengerti,

Semuanya telah aku tanggalkan
-telanjang diatas hamparan tanpa batas panjang.

; Aku lelah !


Vellodrome story 1995,-
a.r.i.e

Senin, 12 Juli 2010

JELAGA JIWA


Waktu berjalan
Berlari
Tanpa lelah
Lupa peluh
- melaju .

Airmata
Menangis
Sedih
Trenyuh
Mengais
; penuh haru

Aaaaaaah !
Hening sesaat
Bingar melagu indah,
- bukan kelucuan .

Darah
Merah merona

Mata terkatup
Airmata berurai harap,

Maaf !
; aku tak bisa menghitung dosaku

Airmata mengalir
Penyesalan mungkin sudah berakhir.

Jumat, 09 Juli 2010

BISAKAH ?


Bisakah ?
Untuk sejenak temani ragaku,wahai hati penuh cinta..
Menemani kesendirianku menyusuri pematang rupa dunia
yang membingungkan ini...

Bisakah ?
Untuk mencumbui keresahanku,wahai hati penuh rasa...
Ku takut semua impian menjadi sirna dalam sia-sia

Peluklah aku,wahai jiwa penuh perasaan
Agar tenang dapat aku miliki dalam dunia yang penuh hiruk pikuk ini

Menikmati sejuknya angin senja,
Merangkai mimpi diantara pijar-pijar asa yang aku pugar kembali
Menyatukan kembali hati yang terpecah insan yang menangis sepi,

Bisakah ?
Sejenak kau temani ?
Sejenak kau mengerti ?
Sejenak kau pahami ?

Sandiwara yang kita liuki adalah temporer sebuah mimpi,
Banyak yang tertawa,
Banyak yang menangis,
Banyak yang takut,
; bersembunyi dari kenyataan yang bercadar belaka.

Peluklah aku,wahai jiwa penuh perasaan
Agar tenang dapat aku miliki dalam dunia yang penuh hiruk pikuk ini

Bersamamu aku yakinkan pendirian ini,
Meyakini segala arti duniawi
pemberian Illahi
; yang kini kita arungi...

Bisakah ?
Untuk sejenak temani ragaku,wahai hati penuh cinta..
Menemani kesendirianku menyusuri pematang rupa dunia
yang membingungkan ini...


; sebentar saja !


a.r.i.e

Kamis, 08 Juli 2010

M . O . M


Aku goreskan beberapa catatan ini
Tentang hidup dan kehidupan

Diantara derap langkah masa
Berbaur deru-debu kisah jiwa

Dunia berawal dari titian kelam
Gelap dan semu bercadar dalam gulita

Apa ?
Mengapa?
Dimana ?

Selalu pertanyaan itu berputar.

Wanita sepuh
Keriput , - menghiasi usia tiga perempat abad

Aku memanggilnya IBU
- karena catatan kecilku ada pada sanubarinya.

Aku goreskan beberapa catatan ini,
Tentang ritme hidup dan kehidupan
yang beriring dengan lantun suara hati seorang ibu

Jiwanya jiwa yang memiliki setangkup rasa
yang tak pernah menuntut balas,

Wanita sepuh
Keriput , - menghiasi usia tiga perempat abad
Begitu saja waktu yang melintasinya cepat

Kupanggil IBU padanya,
; karena kutahu, catatan kecilku selalu ada disanubari putihnya.




Poem dedicated for My MOM / a.r.i.e

JINGGA PELATARAN HATI


Jika aku sedang bermimpi,
-pastinya aku tak memiliki apapun dalam hatiku,
Yang kutatap adalah kongkret yang tersaji,
Berselimut makna dalam rangkul cerita tak berbatas..

Bukan untai puisi yang aku rangkai,
Bukan pula sentimentil hati bermahkota aksara

Semua adalah proses kehidupan yang aku bingkai
melalui perca-perca pecah kaca dunia,
Aku pelajari dan cintai kenyataan
; seperti aku mencintai jiwa seorang kekasih
yang mencintai aku sebagai kekasihnya

Aku sedang tidak bermimpi
bilamana aku menyaksikan hidup penuh dengan warna
dalam ragam yang berbeda,
bilamana aku menyaksikan hidup penuh suka dan kedukaan,

Bathinku menyeru dalam aura kalbu,
Mengantarkanmu dalam peraduan rasa dalam hati yang tersemat.

Inilah realis, - palung jiwa yang berkata
Bukan untai puisi yang aku rangkai untukmu ,
Bukan pula sentimentil hati bermahkota aksara merayumu

Karena Kuasa Illahiah yang mempertemukan jasadmu bagiku,
Lewat waktu, dan laju hari-hari yang berkejar-kejaran
disekitarku,

Untukmu ,
; betapa cinta ini tak bersisa.


a.r.i.e

Jumat, 02 Juli 2010

USANG RUANG


Tidak akan pernah terjadi lagi,-harapku ketika kau mulai menjauh,
Dan puing-puing masa lalu telah habis
tak bersisa,

Amarah yang terkubur dalam jiwa,-seperti hampa ada dan tiada
meski pernah membunuhmu melupakan aku,

Betapa lucu perjalanan ini
Tatkala lugu kita mempengaruhi
Untuk saling mencumbu,mencinta, -gila !

Kita lupakan segala cara
Hingga kau terlelap dalam buai swargaloka
yang aku eratkan pada hatimu,

Kini aku mencarimu
Sampai dipenghujung waktu tak menentu
Melupakanmu sangat sulit bagiku,
; namun sulit kutemui .

Ini catatan harianku
Yang aku tulis sendiri saat mata belum mengatup lelah
Tatkala malam kelam membisu,
Tatkala mata pagi hampir membuka bibir-bibir terang,

Ini catatanku sendiri,
Yang aku tuliskan disebuah buku
diatas lembaran usang,

Tentangmu,
; meski kau tak pernah mengetahuinya.

Tidak akan pernah terjadi lagi,-harapku ketika kau mulai menjauh,
Dan puing-puing masa lalu telah habis
tak bersisa,

Atau mungkin baiknya kita lupakan saja ?


a.r.i.e