Rabu, 28 Desember 2011

LENTERA FAJAR

Hanya satu
Tak terdua,
Didalam jiwa menapaki fana,

Tak mengeluh,- meski berpeluh
Airmata menjadi ikhwalnya kisah,
Disetiap pacu waktu yang mendera.

Disetiap santun yang mengalir menjadi do'a dalam diri,
Perlahan, perlahan, - tanpa henti.
; untuk kita.

Hanya satu
Tak terdua,
Didalam jiwa menapaki riaknya fana,
; ada tegar yang tak pernah pudar.

Dialah lentera kesejukan lara,
Yang takkan pernah menyesali rasa yang tercurah tak percuma,

Dialah kedamaian,
Yang selalu melupakan kesedihannya,
Untuk jiwa-jiwa yang dimanjakannya.
; meski waktu merentakannya .

Airmata menjadi ikhwalnya kisah,
Disetiap pacu waktu yang mendera.
Ada bijak terpancar disetiap guratan wajah yang mulai mengerut.

Dialah lentera kesejukan lara,
Yang takkan pernah menyesali rasa yang tercurah tak percuma,

; dialah ibu !

( a.r.i.e )

Kamis, 22 Desember 2011

EdanE - Evolusi.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - Tracking

EdanE - Evolusi.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - Tracking: EdanE - Evolusi.mp3

Senin, 28 November 2011

KULDESAK II

Berlarian didalam belantara dunia
Banyak duri-duri tajam merobekku,
- luka disekujur tubuh, perih.
Tak terlihat

Sepoi angin meniup
Hingga raga kembali dan segarkan aku,
Luka terlupa,
Menggigil saja disekujur tubuh

Tak kupahami aura dunia
Luka perih, hangus terbakar matahari,
Semua menjadi teman dalam perjalanan.

Masih berlarian didalam belantara dunia
Banyak duri-duri tajam merobek dan mencabik,
- luka disekujur tubuh, perih.
Tak terlihat.
Mentari tinggal seperempat membakar.

; aku terkapar dalam pencarianmu .

( a.r.i.e )

KULDESAK II

Berlarian didalam belantara dunia
Banyak duri-duri tajam merobekku,
- luka disekujur tubuh, perih.
Tak terlihat

Sepoi angin meniup
Hingga raga kembali dan segarkan aku,
Luka terlupa,
Menggigil saja disekujur tubuh

Tak kupahami aura dunia
Luka perih, hangus terbakar matahari,
Semua menjadi teman dalam perjalanan.

Masih berlarian didalam belantara dunia
Banyak duri-duri tajam merobek dan mencabik,
- luka disekujur tubuh, perih.
Tak terlihat.
Mentari tinggal seperempat membakar.

; aku terkapar dalam pencarianmu .

( a.r.i.e )

Sabtu, 26 November 2011

B I R U

Aku mengembara ditengah-tengah angin yang berhembus,
Membawaku melintasi waktu dan menghentikanku diatas taman pelataran sebuah hati,
Aku sendiri !

Sepekan waktu bagaikan kijang melesat tinggalkan aku,
Rupa ruang dalam benak seakan berceloteh,
Gaungnya memantul ditiap dinding ruang dan menerobos menusuk raga seorang hawa.

Cinta dan hati adalah sepasang kekasih,
Kehidupan yang mereka jalin adalah perasaan-perasaan itu sendiri,
Kesedihan yang mereka lalui adalah hempasan raga dari pikiran mereka sendiri,
; namun mereka tetap sepasang kekasih.

Ini persembahan hati,
Saat lenguh dan lusuh jiwa saling memahami,
Tatkala aku menjadi kau,
- kau menjadi aku.
Keduanya pun melebur menjadi kasih.

Aku masih mengembara ditengah-tengah angin yang berhembus,
Melintasi waktu dan menghentikanku diatas taman pelataran sebuah hati,

Rupa ruang dalam benak seakan berceloteh,- keadaan merubah segala cara dan menikam segala benci.

Inilah cinta,
Kehidupan terjalin adalah perasaan-perasaan itu sendiri,
Kesedihan dilalui adalah hempasan raga dari pikiran mereka sendiri yang tengah menangis dan berpesta-pora airmata.

Tapi cinta adalah apa yang ada dalam pikiran kita
-yang terucap dari bahasa kalbu dan meresap melalui pori-pori mereka dengan ketulusan.

Ia bagaikan teduhnya pepohonan
Ia bagaikan cairan anggur yang terkadang memabukkan,
; semua hanya mampu kita resapi saja.

( a.r.i.e )

Senin, 08 Agustus 2011

KUMBANG KEMBANG


Ketika itu, - bukan hari ini
yang tengah kita jalani,
Bayang mengembang dalam rasa melayang,
Membias kenang lampau pada satu benak
; kau dimana ?

Ketika itu, - deru nyanyian debu
berlalu lalang tak bertuan mencumbuiku,
menjadi sahabatku dalam sepi,
; kau dimana ?

Masa terindah,
Sungguh terindah dalam cengkeram waktu,
kau,
aku,
; seperti cerita kumbang dan kembang

Ketika itu, - bukan hari ini
yang tengah kita jalani,
Bayang mengembang dalam rasa melayang,
Membias kenang lampau pada satu benak
; kau dimana ?

Rinduku masih ada
; tak bisa pudar sampai kapanpun.



a.r.i.e.

Minggu, 24 April 2011

KULDESAK


Perjalananku menembus waktu dan peradaban musim,
Menyusuri ilalang, - gelap, terjal dan cadas
Pernah,
Sesekali aku terlupa rupa,
Terpenjara dalam ketiadaan,
Pernah,
- dan tidak hanya sekali kenaifan membungkusku.

Perjalananku,
Mungkinkan menyerupai waktu tidurmu ?
atau mungkin kau tengah terlena diatas bantal mimpimu,

Tajamnya dunia yang mencumbui hati dalam pijar
nelangsa yang renta,
satu, dua, hingga kesekian purnama lulur begitu saja...
Dimana rupaku ?

Keindahan yang tersaji pernah terlontar hina,
semua aku nikmati...

Perjalananku
menembus waktu dan peradaban musim,
Menyusuri ilalang, - gelap, terjal dan cadas
Pernah,
Sesekali aku terlupa rupa,
Terpenjara dalam ketiadaan,

; semuanya gelap.
Aku lupa pulang .

Kamis, 17 Februari 2011

SUDAH


Sudahi saja semua peran dan cerita sedih,
percuma... - takkan pernah berkesudahan
bahkan meninggalkan perih mendalam,

Sudah,
Baiknya akhiri saja segala keluh kesah,
percuma,
; itu semakin membuatku tak mengerti.

Jalan gelap,
Pekat,
dan sulit untuk ditelusuri nurani
tajam cadas menghempas keras...


Mungkinkah mati yang harus mengakhiri?
Atau ini semua akan menjadi ikhwal ?

Telanjang angan berlari diantara gemawan ilusi,
Seperti rupa perih masa yang pedih,
Masih adanya menghitam...

Sudahi saja semua peran dan cerita sedih,
percuma... - takkan pernah berkesudahan
bahkan meninggalkan perih mendalam,