Senin, 08 Agustus 2011

KUMBANG KEMBANG


Ketika itu, - bukan hari ini
yang tengah kita jalani,
Bayang mengembang dalam rasa melayang,
Membias kenang lampau pada satu benak
; kau dimana ?

Ketika itu, - deru nyanyian debu
berlalu lalang tak bertuan mencumbuiku,
menjadi sahabatku dalam sepi,
; kau dimana ?

Masa terindah,
Sungguh terindah dalam cengkeram waktu,
kau,
aku,
; seperti cerita kumbang dan kembang

Ketika itu, - bukan hari ini
yang tengah kita jalani,
Bayang mengembang dalam rasa melayang,
Membias kenang lampau pada satu benak
; kau dimana ?

Rinduku masih ada
; tak bisa pudar sampai kapanpun.



a.r.i.e.

Minggu, 24 April 2011

KULDESAK


Perjalananku menembus waktu dan peradaban musim,
Menyusuri ilalang, - gelap, terjal dan cadas
Pernah,
Sesekali aku terlupa rupa,
Terpenjara dalam ketiadaan,
Pernah,
- dan tidak hanya sekali kenaifan membungkusku.

Perjalananku,
Mungkinkan menyerupai waktu tidurmu ?
atau mungkin kau tengah terlena diatas bantal mimpimu,

Tajamnya dunia yang mencumbui hati dalam pijar
nelangsa yang renta,
satu, dua, hingga kesekian purnama lulur begitu saja...
Dimana rupaku ?

Keindahan yang tersaji pernah terlontar hina,
semua aku nikmati...

Perjalananku
menembus waktu dan peradaban musim,
Menyusuri ilalang, - gelap, terjal dan cadas
Pernah,
Sesekali aku terlupa rupa,
Terpenjara dalam ketiadaan,

; semuanya gelap.
Aku lupa pulang .

Kamis, 17 Februari 2011

SUDAH


Sudahi saja semua peran dan cerita sedih,
percuma... - takkan pernah berkesudahan
bahkan meninggalkan perih mendalam,

Sudah,
Baiknya akhiri saja segala keluh kesah,
percuma,
; itu semakin membuatku tak mengerti.

Jalan gelap,
Pekat,
dan sulit untuk ditelusuri nurani
tajam cadas menghempas keras...


Mungkinkah mati yang harus mengakhiri?
Atau ini semua akan menjadi ikhwal ?

Telanjang angan berlari diantara gemawan ilusi,
Seperti rupa perih masa yang pedih,
Masih adanya menghitam...

Sudahi saja semua peran dan cerita sedih,
percuma... - takkan pernah berkesudahan
bahkan meninggalkan perih mendalam,

Sabtu, 17 Juli 2010

BELUM ADA JUDUL


Jika ini bukanlah suatu hal yang terjadi
- akankah terlupa semua impian ?
atau baiknya berhayal hingga waktu saja
datang merenggut hati dan jiwa-jiwa hidup
bagai pepohonan kering dan tumbang ,

Mungkin pula bukan sebuah harap,
Karena raga sudah tak berarti apa-apa
Bagai sisa yang terlupakan...

Mentari yang tersapu mega
dalam bayang tak kasat mata,
Dedaunan yang jatuh ke tanah
- menjadi kering dalam kecap sang waktu,

Aku melihat sekitarku
berkata dalam bahasa diam,
Tanpa aksara terwujud,
Hanya terpaku dan mengagumi diam

Aku lihat pula kawanan walet
yang bermain menggelayuti mega senja,
Mencumbui laut dan menerkam mangsanya
; dia mampu bertahan, dia mampu mewujudkan hidup
dalam kehidupannya...

Jika ini bukanlah suatu hal yang terjadi
- akankah terlupa semua impian ?
atau baiknya berhayal hingga waktu saja
datang merenggut hati dan jiwa-jiwa hidup
bagai pepohonan kering dan tumbang ,

Begitu aku mendekap seribu inginku
Yang pernah dicuri kawanan waktu berlalu,
Tentang cinta,
Harapan,
-dan kepastian jiwa yang mencintai,

Kaukah digaris senja ?
Diatas tapal batas berpayung mega mengelam ?
Yang memanggil sayup ragaku menembus dimensimu?
Bercadar hangat dalam simpul senyum kedamaian...

Bilakah kau pahami sesuatu yang tersembunyi
dibalik celah hati menyanjungmu,
Dan cinta akan terjelang mengitari kita...

Ini bukan mimpi dan tragedi hati,
Ketika seruanku mengetuk dinding peraduan senja hatimu,
Menyalakan perapian dalam tungku penuh kedamaian,

Bukan pula mimpi yang aku berikan,
Dan aku meyakinkan hati,- seperti aku tetap terus
menjagakan hatimu dari hati yang akan menodaimu,

; Dan itu aku untukmu !



a.r.i.e
18 July 2010 at 01.30am

Selasa, 13 Juli 2010

JENGAH



Sudah,
Aku sudah berlari menelusuri pelataran ini
-hingga titik akhir lelahku,
Tak peduli,
; karena hidup memang harus seperti ini.

Sudah,
Aku sudah melepaskan sejuta ragu dan penatku
-akan masa yang sulit dimengerti,

Semuanya telah aku tanggalkan
-telanjang diatas hamparan tanpa batas panjang.

Aku kubur segala rindu
Yang dulu pernah meraja dan merayu,
Yang dulu pernah mengukir kalbu
; dalam bahasa bermahkota cinta.

Aku telah puas merasakan dosa,
Membersit luka pada dinding seorang hawa,
Yang dulu mengajakku larut dalam drama satu peran
miliknya,
; aku terbuai.- dan sungguh aku sesali.

Bukan salahmu,
Bukan pula inginku,
Meski kita sama sekali tak memahami arti
apa yang terjadi...

Sudahlah,
Aku
Kau
-atau apapun
; adalah kenangan lalu.

Kenangan masa kegelapan,
Penuh kepekatan dalam cakrawala bertabur hitam,

Perbaiki saja segala keluh kesah dan gelisah
yang dulu pernah membakar hati kita tak bersisa,
Agar dosa ini mampu kita leburkan,
Mampu kita kuburkan,
; tanpa berulang kembali.

Sudah,
Aku sudah melepaskan sejuta ragu dan penatku
-akan masa yang sulit dimengerti,

Semuanya telah aku tanggalkan
-telanjang diatas hamparan tanpa batas panjang.

; Aku lelah !


Vellodrome story 1995,-
a.r.i.e

Senin, 12 Juli 2010

JELAGA JIWA


Waktu berjalan
Berlari
Tanpa lelah
Lupa peluh
- melaju .

Airmata
Menangis
Sedih
Trenyuh
Mengais
; penuh haru

Aaaaaaah !
Hening sesaat
Bingar melagu indah,
- bukan kelucuan .

Darah
Merah merona

Mata terkatup
Airmata berurai harap,

Maaf !
; aku tak bisa menghitung dosaku

Airmata mengalir
Penyesalan mungkin sudah berakhir.

Jumat, 09 Juli 2010

BISAKAH ?


Bisakah ?
Untuk sejenak temani ragaku,wahai hati penuh cinta..
Menemani kesendirianku menyusuri pematang rupa dunia
yang membingungkan ini...

Bisakah ?
Untuk mencumbui keresahanku,wahai hati penuh rasa...
Ku takut semua impian menjadi sirna dalam sia-sia

Peluklah aku,wahai jiwa penuh perasaan
Agar tenang dapat aku miliki dalam dunia yang penuh hiruk pikuk ini

Menikmati sejuknya angin senja,
Merangkai mimpi diantara pijar-pijar asa yang aku pugar kembali
Menyatukan kembali hati yang terpecah insan yang menangis sepi,

Bisakah ?
Sejenak kau temani ?
Sejenak kau mengerti ?
Sejenak kau pahami ?

Sandiwara yang kita liuki adalah temporer sebuah mimpi,
Banyak yang tertawa,
Banyak yang menangis,
Banyak yang takut,
; bersembunyi dari kenyataan yang bercadar belaka.

Peluklah aku,wahai jiwa penuh perasaan
Agar tenang dapat aku miliki dalam dunia yang penuh hiruk pikuk ini

Bersamamu aku yakinkan pendirian ini,
Meyakini segala arti duniawi
pemberian Illahi
; yang kini kita arungi...

Bisakah ?
Untuk sejenak temani ragaku,wahai hati penuh cinta..
Menemani kesendirianku menyusuri pematang rupa dunia
yang membingungkan ini...


; sebentar saja !


a.r.i.e