Rabu, 16 Juni 2010

SEMESTINYA CINTA


Jika kau adalah kasih
semestinya kau memiliki segala rasa
yang sepatutnya kau berikan

Bukan semata-mata untuk pujian
sekecil apapun adanya,

Karena cinta tidak menuntut apapun yang diterima
namun satu hal yang diberi

Jika kau adalah keteduhan
semestinya kau memiliki taman-taman
yang senantiasa diatasnya terdapat pepohonan rindang
yang mampu melindungi gerah dan teriknya matahari
dikala sengat sinarnya menjadi-jadi

Jika kau adalah air
semestinya telah kau sirami kering agar senantiasa
mampu berseri kembali dan melupakan kemarau panjang,

Disanalah terdapat cinta yang sesungguhnya,
Laksana kasih sejati,
Laksana rindang teduhnya pepohonan yang hijau meghiasi taman
pelataran hati,
Laksana air yang dapat membasuhi segala kering yang mematikan

Tanpa menuntut apapun yang akan diberikan oleh apa dan siapapun adanya,
Mampu memberi tanpa meminta
Mampu mengasihi tanpa menuntut belas kasih

Dan
Bukan semata-mata untuk pujian,harapan,
sekecil apapun adanya,

Karena cinta tidak menuntut apapun yang diterima

; namun satu hal yang diberi..



a.r.i.e

Senin, 14 Juni 2010

MUKADIMMAH CINTA


Cinta mengajarkan aku tentang kedamaian
dari hati seorang kekasih yang dirajut dalam impian
masa lalu menyibak perasaan keluh,

Disana terdapat untaian kata syurga yang bersenandung
dalam pijar santun lanksan menuntun hati
pada peraduan kasih,

Seperti serangga yang mencumbui manis kelopak bunga
diatas hamparan hijau taman dan dedaunan,

Meski terkadang menitikkan airmata diantara redup tanya
berkepanjangan,

Tak mengerti dan begitu indah
tersaji dalam bahasa qalbu,

Cinta mengajarkan aku tentang cumbuan masa
yang pernah diliuki indah bersahaja
Tautan rasa dua hati yang berbeda
Tautan kasih dalam bahasa yang sesungguhnya tak dimengerti,

Cinta tak mengharapkan balas,
Meski pecutan menyayat kulit dan sayap-sayapnya,
Cinta tak menuntut balas dari apa yang pernah disanjungnya
penuh rasa dan kasih sayang,

Cinta bukanlah cakrawala yang ditakuti,
namun hati yang teduh untuk dimiliki.

Disana terdapat untaian kata syurga yang bersenandung
dalam pijar santun lanksan menuntun hati
pada peraduan kasih,

Meski terkadang menitikkan airmata diantara redup tanya
berkepanjangan,

Sulit untuk dimengerti dan begitu indah
tersaji dalam bahasa qalbu yang bersenandung rindu.

Sabtu, 12 Juni 2010

TANAH MERAH BASAH


Ada airmata lagi yang mengalir
mengitari sebuah lubang - tempat peristirahatan abadi
rumah bagi jiwa dan ketenangannya,
jauh dari hiruk pikuk dunia,
jauh dari caci maki dan keangkuhan jiwa

Tidak ada lagi yang patut dibanggakan atas siapa kita,
Semua sudah tak berarti dan tak ada yang bisa dibawa pergi

Semua harta,
Saudara,
Sanak Family, bahkan kedudukan yang dulu pernah kita raih

Semua sama dihadapan-NYA,
Kecil dihadapan-NYA,

Ditemani gelap suasana kamar yang baru,
Hanya beberapa senti saja dari diri,

Ada airmata lagi yang mengalir
mengitari sebuah lubang - tempat peristirahatan abadi
rumah bagi jiwa dan ketenangannya,
jauh dari hiruk pikuk dunia,
jauh dari caci maki dan keangkuhan jiwa

Malam adalah ribuan waktu dalam kegelapan yang kosong,
Sendiri,
Hampa dalam kesunyian,

Tak ada yang bisa dibawa
selain diri dan amal apa yang telah kita lakukan
diatas fana dunia

Jauh
Sunyi dari keramaian

Gelap
dan jauh dari gemerlap dunia

Tuhan Maha SegalaNYA
Memiliki apa yang telah dikehendakiNYA,

Rabu, 09 Juni 2010

HATI


Ini tentang bahasa hati,
Aksara diam namun dapat dirasakan
Aksara bisu namun dapat menggugah rindu...

Semua dewasa dalam palungan cinta,
sebegitu adanya cinta yang mengajarkannya
dengan penuh rasa kasih dan sayang,
Meliuki taman-taman surga penuh perasaan dan kalbu jiwa

Dan
Cinta pula-lah yang memandikan segala lusuh raga masa lalu
Laksana hina kembali dalam sejuta kesucian
kemudian dibungkus oleh wewangian penuh rasa dan kasih sayang

Cinta begitu memanjakannya,
Memanjakan hati dengan sejuta kerinduan,
Cinta pula yang mengajarkan tentang suci bahasa kalbu
tatkala kalbu tertutup oleh sejuta ragu
melanda,
menyeruak,
dan memporak porandakan ketentraman,
hingga cinta membangkitkannya menjadi kalbu yang penuh rasa kasih.

Hati menjadi taman
dimana jiwa-jiwa dapat bersenandung dengan damainya,
dimana jiwa-jiwa dapat menyelaraskannya dengan penuh kesukaan
tanpa kesedihan lagi,

Semua dewasa dalam palungan cinta,
sebegitu adanya cinta yang mengajarkannya
Laksana hina kembali dalam sejuta kesucian
kemudian dibungkus oleh wewangian penuh rasa dan kasih sayang

Ini tentang hati,- yang berbicara,
Aksara diam namun dapat dirasakan
Aksara bisu namun dapat menggugah rindu.

; dan kita tengah memerankannya..

Jumat, 04 Juni 2010

BUKAN ROMAN PICISAN



Bunga mawar yang aku berikan
masihkah kau jaga dan sirami ?
Masihkah terasa wangi yang menyelimuti hati ?
- ataukah hilang dimakan waktu dan usia yang berjalan ?

Bunga mawar yang pernah aku berikan,
masihkah kau ciumi aromanya ?
Seperti dulu kau mengecupku disuatu masa gemerlap hati,

Aku tak dapat memaparkannya,
Mulutku terkunci,
Lidahku kelu,
Mataku hanya dapat menikmati
kedua bola matamu yang cantik
- menari dalam pikiranku.

Kita dalam usia hijau,
memerankan fragmen hati seadanya,
Begitu dan begitu saja waktu angkuh mengatakannya

Masihkah ada satu kenang tentangku, wahai dewiku ?
Atau mungkin tlah kau lupakan, - dan
kau kubur saja dihalaman belakang rumahmu ?

Lembar suratku dulu ?
Masihkah kau membacanya seperti saat ini
ditengah sepi yang kau lalui,
; seperti saat ini .

Aku tak dapat memaparkannya,
Mulutku terkunci,
Lidahku kelu,
; tanpa aksara ...
- bisu.

Masihkah ada satu kenang tentangku, wahai dewiku ?
Atau mungkin tlah kau lupakan ?

Bunga mawar yang aku berikan dulu,
masihkah kau jaga dan sirami ?

Masihkah terasa wanginya yang senantiasa menyelimuti hati ?
- ataukah hilang dimakan waktu dan usia yang berjalan ?

Aku tak dapat memaparkannya,
Mulutku terkunci,
- dan semakin aku larut dalam cerita ini.


a.r.i.e

"Bu...


Bu,
Seperti yang pernah engkau ceritakan, - tentang perjalanan panjang
Berliku, terjal, mendaki, berduri
Tak pernah lelah dalam kisah yang terkadang luka,

Bu,
Ketika tanganmu gemulai membelai raut wajah suci yang kini penuh dosa
-penuh dengan perca-perca bantah dalam ribuan makian kini,
Aku…
Tentang masaku ,-dunia penuh dengan coretan warna tak jelas.

Dan serumu mengalir dalam nadiku,
Nada datar suaramu menggema merasuk dalam telingaku,
“Ceritamu, Nak
Perjalanan yang panjang dalam waktu berduri tajam…”

Bu,
Seperti dongeng kisah yang pernah engkau ceritakan, - tentang perjalanan panjang
Berliku, terjal, mendaki, berduri tajam
; tentang pahit yang terkecap manis.

Aku terlelap dalam sentuhan penuh doa yang terlantun
-melalui bibirku yang kini telah mengerut
Aku menangis dalam alunan masa-masamu yang terjal meradang duka,

Bu,
Ketika tanganmu gemulai membelai raut wajah suciku yang kini penuh dosa
-penuh dengan perca-perca bantah dalam ribuan makian kini,
Aku…
Tentang dunia penuh dengan coretan warna tak jelas.



"Bumi Ruwa Jurai, Desember 2004
a.r.i.e

Kamis, 03 Juni 2010

LUPA YANG LALU ( Syair tanpa huruf 'R' )



Ketika lelah langkah lusuhku
melagukan hymne tentang jiwa,
Lembayung jingga yang lemah melambai
sayup,-pelan memecah,
- menyusup ke dalam sunyi melintasi bianglala,

Lupa,
Aku lupa waktuku melangkah,
Meliuki kenelangsaan yang telah lalu,
Lupa,
; dan aku melupakannya.

Kau-kah ?
Kaukah imaji yang memelukku ?
Mencumbui aku ?
Hingga kini ?

Lupa,
Bukan kesengajaan untuk melupakannya,
Bukan pula aku enggan mengingatnya,
Sampai batas waktu matiku,
- tatkala mata ini mengatup pelan kelopaknya.

Kau-kah ?
kaukah itu ?
- yang meliuki aku, waktuku,
dengan bahasa imaji kalbu untukku...

Aku bingkai semua catatan ini
tanpa kesedihan dan kenelangsaan lagi,
Ku tak mau apapun hina melintasi kembali,

Ketika lelah langkah kakiku,
Lembayung jingga yang lemah melambai
sayup,-pelan memecah,
- menyusup ke dalam sunyi melintasi bianglala,

; Semua tetap begitulah adanya.



a.r.i.e

Rabu, 02 Juni 2010

GITA RUPA-RUPA CINTA



Jika cinta tak memandang apa dan siapa,
-mengapa harus ada luka ?
Bukankah cukup rasa mengerti dan pengetian saja ?

Apakah cinta ?
Begitukah cinta ?
Yang kerapkali memenuhi ruang tanya Adam dan Hawa.

Bergeloranya rasa
yang terpacu segenap hasrat dalam pijar kerinduan
menyerupai api dalam tungku yang awalnya adalah hampa

Jika cinta tak memandang rupa,
- mengapa banyak jiwa yang menutupi dirinya ?
Dengan cadar menyembunyikan segala makna rupa.

Ataukah enggan ?
Mungkinkah hina ?
Atau mungkin tak memiliki arti sama sekali ?

Cinta adalah kesedihan
yang dibungkus dengan keriangan,
yang berjalan dengan kepura-puraan bahasa sukacita
; karena cinta awalnya adalah nelangsa hati dan airmata

Cinta tak mengharapkan balasan
melainkan apa yang pernah ia berikan tulus penuh kasih,
Cinta tak mengharapkan belas kasih,
- melainkan apapun yang ia berikan penuh dengan keikhlasan.

Cinta berada diantara bumi dan langit dengan Illahiah adanya
menyerukan suara hati dalam kekuatan bahasa kalbu,
Merasuk pada raga dan ruh setiap jiwa yang memiliki rasa
dan kasih sayang,

Bergeloranya rasa
yang terpacu segenap hasrat dalam pijar kerinduan
menyerupai api dalam tungku yang awalnya adalah hampa

; begitulah adanya .


a.r.i.e

Selasa, 01 Juni 2010

PAGI YANG INDAH SEKALI


Pagiku
yang aku temui,
tenang,
setagkup harap bermain bersama mata awalnya hari..

Embun yang menetes,
segar,
-melupakan kering dan gersang kemarin..

Taman hijau menghampar bak permadani bumi
Suara alam gegap gempita

Aku ada diantaranya
bersama dengan syair yang aku kumandangkan,
Diiringi dngan syahdu suara alam

Pagiku
yang aku temui,-indah dan
tenang berseri,
setagkup harap bermain bersama mata awalnya hari..
; semua berjalan dalam kilas senyum hati.

SETETES AIR MATA SEULAS SENYUMAN


Inilah penyair yang tak meminta apa-apa
dari manusia kecuali seulas senyuman
Inilah penyair yang penuh semangat dan memenuhi
cakerawala dengan kata-kata indah
Namun manusia tetap menafikan kewujudan keindahannya

Sampai bila manusia terus terlena?
Sampai bila manusia menyanjung penguasa yang
meraih kehebatan dgn mengambil kesempatan??
Sampai bila manusia mengabaikan mereka yang boleh memperlihatkan
keindahan pada jiwa-jiwa mereka
Simbol cinta dan kedamaian?

Sampai bila manusia hanya akan menyanjung jasa org yang sudah tiada?
dan melupakan si hidup yg dikelilingi penderitaan
yang menghambakan hidup mereka seperti lilin menyala
bagi menunjukkan jalan yang benar bagi orang yang lupa

Dan oh para penyair,
Kalian adalah kehidupan dalam kehidupan ini:
Telah engkau tundukkan abad demi abad termasuk tirainya.

Penyair..
Suatu hari kau akan merajai hati-hati manusia
Dan, kerana itu kerajaanmu adalah abadi.
Penyair..periksalah mahkota berdurimu..kau akan menemui kelembutan di
sebalik jambangan bunga-bunga Laurel..

------- ( Khalil Gibran )

AJARKANLAH



Ajarkanlah pada anak-anakmu tentang makna sebuah hidup
terjal dan curamnya,
keras dan lembutnya hati,

Biarkan mereka saja yang mengarungi
apa yang tengah tersirat dibalik isi kepalanya,
Agar mereka dapat mempelajari makna dari untaian bijak,
agar bijak senantiasa menemaninya,
; dari usia belianya yang hijau.

Jikalau ia belajar menyiasati tentang sebuah ingin,
biarkanlah,-dan ajarkanlah bagaimana ia dapat meraih inginnya,
untai impian masa mudanya yang berceriuta dalam bahasa polosnya,
- biarkan mereka meraihnya.

Ajarkan pula pada mereka tentang iman dan ketaqwaan,
Tentang adanya Sang Khaliq,
Yang menciptakan semesta raya
beserta isinya,

Sebelum tidur,
Nyanyikan dan bisikkan telinga mereka
Tentang lantunan suci Ayat-ayat Allah,
Sebagai pelindung dan selimut bagi tidurnya,
; agar senantiasa impian-impian mereka senantiasa
bertumbuh dalam diri mereka.


Biarkan mereka saja yang mengarungi
apa yang tengah tersirat dibenaknya,
Agar mereka dapat mempelajari makna dari untaian bijak,
agar bijak senantiasa menemaninya,
; dari usia mereka yang masih hijau.

Ajarkan pula pada mereka tentang iman dan ketaqwaan,
Tentang kebesaran Sang Khaliq,
Yang menciptakan semesta raya
beserta isinya,

; agar ia semakin bertumbuh dalam kesucian.

DULU



Dulu,
Saat waktu berjalan
Masih mengenang tentang sebuah angan
Satu harap yang berselimut doa

Jauh bersemayam dalam ingatanku
Klasik perjalanan yang mengitar indah
Sebuah fragmen dan romantika
Tentang gelap dan terang
; mungkin juga samar-samar

Dulu,
Saat waktu berjalan
Aku tuliskan beberapa bait kata termegah
Yang kuyakinkan itu adalah keindahan
; sebagai teman tidurmu, wahai impianku...

Dan kecupku dikenigmu itu
bukan makna minor yang aku persembahkan,
Sekedar ungkapan dan gambar rasa sayangku untukmu,
agar kau semakin mengetahui semuanya...

Dulu,
Saat waktu berjalan
Dekapku untukmu sebuah rasa yang menginspirasi dalam satu
imajinasi paparan hati,
Tidak,
Tidak,
Bukan sebuah makna kotor yang aku persembahkan.
Karena ; - ini tentang bahasa hati...

Entah,
Kapan,- dan aku hanya mengenangnya saja.
Kutahu sebuah kenangan sangat mahal harganya,
Tak bisa terbeli dengan sepeser mata uang apapun,
Cukup untuk aku saja yang mengingatnya...

Jauh bersemayam dalam ingatanku
Klasik perjalanan yang mengitar indah
Sebuah fragmen dan romantika
Tentang gelap dan terang
; mungkin juga samar-samar

- namun nyata adanya.


( a.r.i.e / Last kiss version )