Minggu, 30 Mei 2010

CELAH


Purnama kesekian kalinya
-diketika mampu mencumbui pura-pura,

Bisu,
Melompong,
; kosong dan ompong.

Tertawa keras lantang semaunya,
Bersama bercanda dengan para bidadari relung
Sesuka hati dan seadanya saja.

Mencintai keadaan dan mengubur kebosanan
Karena hidup sudah berjalan
bukan berarti harus slalu meninggalkan..

Rabu, 26 Mei 2010

DOA JIWAKU

Pagiku,
Yang aku bangun dengan untaian do'a,
Yang aku rajut dengan segenggam impian,
Berjalan dan meliuki kembali roda hari...
; tanpa letih.

Gelap -berubah
terang dan Menderang
do'a berkumandang ,-semakin meresap
dalam jiwa mencumbui segala mati rasa.
; Bangkit !

Bahagiaku ada dilangit timur,
bersama mentari merayap malu dan pelan
menyinari dunia

Mata membuka
menatap
tajam,-merasuk celah satu harap...
Luka menjadi asa dalam panjat doa Illahiah.

Pagiku,
Yang aku bangun dengan untaian do'a,
Yang aku rajut dengan segenggam impian,

Dunia panggung sndiwara
dengan berbagai lorong-lorong pilihan
Miskin harta dan kaya jiwa,
; mungkin miskin jiwa berlimpah harta.
- semua pilihan.

Mata membuka pelan,- dalam
menatap
tajam,-merasuk celah satu harap...
Bangkitlah aku...
Bangkitlah...

GARIS LINI




Lalu lalang jalang peradaban
-membawa setiap kepribadian meliuki,
Merambah setiap waktu yang dilewati,
; tanpa lelah,- terus dinikmati...

Waktu teman yang singkat,
terkadang dapat dikenang mungkin secepat itu
-dapat terlupa dan dilupakan,
Ragam pemikiran yang sulit untuk ditebak..

Musim berjalan
Mengantar hati pada satu peraduan dan harapan,
Terkadang sia-sia,
Terkadang mampu untuk dipenuhi,
; bahkan terkadang mampu untuk diludahi...

Seperti inikah ?
Laksana ada yang tak dianggap.

Seperti inikah ?
Laksana luka tanpa terbalut kasa.

Padahal awal tidak mengatakan dan menjanjikan hal ini,
Berjalan saja seadanya tanpa keluh dan makian,
Sungguh,
- betapa nikmatnya sepoi angin surga.
Disertai rangkai kata yang dipaparkan indah.

Bukan tentangku,
Tapi, ini tentang satu pemikiran,
Apa dan mengapa,
Sebab dan akibat..

Sungguh,
- betapa nikmatnya sepoi angin surga.
Disertai rangkai kata yang dipaparkan indah.
Aku melayang diangkasa berharap mampu
memetik berjuta bintang.

;tanpa jatuh.

Lalu lalang jalang peradaban
-membawa setiap kepribadian meliuki,

Waktu teman yang singkat,
terkadang dapat dikenang mungkin secepat itu
-dapat terlupa dan dilupakan,
Ragam pemikiran yang sulit untuk ditebak..

; memang begitulah !

Selasa, 25 Mei 2010

JIWA MILIK JIWAKU


Bukankah kau yang mengajarkanku ?
Tentang semua yang ditemui dan menemui ?
Kau pula yang membangkitkan semua rasaku.
; begitu lahiriah adanya.

Kau pernah mengajarkan hidup
yang berarti dalam kehidupan,
-yang dapat menyelaraskan hati
dan segala bijak...

Pernah kau terluka,
namun kau mampu menebarkan senyuman,
tak pernah lelah mengecap pahit
yang begitu manis hadirnya

Airmata sudah mengering,
sudah melupakan perih,
apalagi kesedihan
; yang begitu anggun.

Ketika bersama kau
dibatas pergantian lalu sebuah musim,
Dibatas tanya yang menggeluti,
Kita nikmati suara alam yang bernyanyi
-diantara deru keangkuhan yang tak dapat dibatasi oleh sunyi.

Diatas pelataran taman hati,
Kita berceritera dalam aksara sendiri,
Kau dan aku
; adalah peraduan perasaan yang tersirat,

Airmata sudah mengering,
dan kita sudah bersama lupakan perih,
Pernah kau terluka,
-dan bersama kita hadapi dengan untai senyum.

Kau
adalah aku,
yang bersemayam dalam diriku,
yang terpahat indah dalam relung pusara hatiku,

Diatas pelataran taman hati,
Kita berceritera dalam aksara sendiri,
Kau dan aku
adalah peraduan perasaan yang tersirat,
; yang begitu indah.

Minggu, 23 Mei 2010

PETUALANGAN DAN KEAJAIBAN I


Ini tentang ungkapan hati seorang sahabat....

Badai pertama reda sudah
Sesekali anak taufan masih memekik lemah
Namun lalu berlalu
Meninggalkan porak-poranda disini

Ajaib,
Badai ini terasa indah
Dalam luka dan remuk redam
Hanya senyum dan rasa syukur yang kudesahkan

Tuhanku,
Diantara desir angin dan keperihan
Aku merasakan damai
; Apakah aku telah sakit jiwa ?
- atau aku hanya hidup kembali ?

Apapun adanya,
Aku tak lagi takut akan badai
Karna menyaksikannya berlalu
Adalah anugerah teragung dari-Mu
Adalah kasih sayang terindah dari-Mu

Damainya jiwa ini
Besarnya rasa ini
Welasnya gerak ini
Kuasanya tubuh ini
Memahami kehancuran dan penciptaan

Dalam rasa
Dekap-Mu
Aku bersyukur
Dan berserah diri.



-------------------------- Yulia Hendrastuti. Selatan Jakarta, 23 Mei 2010

Sabtu, 22 Mei 2010

BIANGLALA


Aku temui seuntai garis terhampar didepan kedua
-cakrawalaku...
Membentang tak berbatas hingga ujung
tiada kutemui,

Diatas bumi,
-tempatku berpijak diantara cerita
dan segala kisah,
Aku temui imajinasi yang lama tiada kutemui,

Bidadari musim tengah merajut cadar
irama tentang ketenteraman hati,
Satu rajut senyum membahana sebagai tabir dunia,
; bukan tentang mimpi, bukan pula tentang ilusi.

Tentangmu,
Ya, tentangmu...
; aku paparkan segenap jiwa tanpa berkeluh.

Menikmati segala hidup dalam rimba kehidupan,
Yang ditumbuhi dengan pepohonan penuh rasa cintadan kasih sayang...

Enggan aku berlari darimu,
Meski cakrawala telah memudar,
Meski langit berubah dan berlari memeluk sang kelam,
; tetap bersamamu.

Aku temui seuntai garis terhampar didepan kedua
-cakrawalaku...
Membentang tak berbatas hingga ujung
tiada kutemui,

Bidadari musim tengah merajut cadar
irama tentang ketenteraman hati,
Satu rajut senyum membahana sebagai tabir dunia,
; bukan tentang mimpi, bukan pula tentang ilusi.

- Ini tetangmu,
; tentang cerita kita yang berjalan.

Jumat, 21 Mei 2010

Indonesia mencari bakat ?



Dinding kamarku
adalah usang waktu yang mengurungku,
Disana aku goreskan beberapa impian,
Aku goreskan pula catatan nestapa...

Dinding kamarku
tidak seluas pemikiran orang-orang besar
-ataupun orang pintar yang bermain tiada gentar,
Karena kutahu,
; Orang pintar kini lebih pandai daripada
segala kunci pengetahuan.

Dinding kamarku,
Hanya sekat biasa yang kubentuk
-lewat imajinasi luar biasa,
;Hanya kau dan jiwaku saja
yang mampu menerka segala inginku...

Orang pintar tak punya kamar sepertiku,
Mereka punya uang dari sesuatu yang tersisa,
Sesuatu yang tak berarti dan dibuat arti,
; Lucunya,- uang mereka tak pernah habis.

Hukum yang tadinya tertata rapi,
Kini sudah beragam tradisi yang dibentuk sendiri,
Uang kini mampu berbicara,
; apakah hari kiamat sudah mulai mendekat ?

Disebuah televisi,
Radio,
Bahkan surat kabar,
; hukum sudah dapat dibeli.

Siapa yang memiliki lebih,
-sudah pasti dialah yang mampu menyiasatinya.

Dinding kamarku
adalah usang waktu yang mengurungku,
Disana aku goreskan beberapa impian,
Aku goreskan pula catatan nestapa...
; namun aku mencintai damai

Dinding kamarku
tidak seluas pemikiran orang-orang besar
-ataupun orang pintar yang bermain tiada gentar,
Karena kutahu,
; Orang pintar kini lebih pandai daripada
segala kunci pengetahuan.

Siapa yang memiliki lebih,
-sudah pasti dialah yang mampu menyiasatinya.

Luar biasa...
; kini , Indonesia tengah mencari bakat !

Kamis, 20 Mei 2010

Hymne Hati


Aku adalah putera sang fajar,
Yang melukis mimpi dengan seribu impian,
Mencumbui malam temaram gulita yang pekat,
Mencintai cinta yang mencintai aku....

Aku adalah bagian hati,
Yang menyelimuti inginmu dengan permadani kerinduanku,
Meski letih dan penat semakin menyekat,
; ku tak perduli jika ku begini...

Malamku kini tenang menghibur aku,
Diantara gelap dan redup kerling gemintang...
Diantara temaram enggan rembulan lusuh,
; Dan kumasih tak perduli sejuta yang terjadi.


Aku adalah putera sang fajar,
Yang melukis mimpi dengan seribu impian,
Mencumbui malam temaram gulita yang pekat,
Mencintai cinta yang mencintai aku....

Aku kiprahkan sejuta hasrat mencintaimu,
Aku kobarkan bara hati untuk meyakinkanmu,
terang...Teranglah...
Berlari...dan enyahlah gelap...

Kubiarkan dingin menyergapku,
Ketika fajar mulai membuka mata lupakan lelapnya,
Ketika embun mulai bermain manja dicelah dedaunan...

Engkau cinta,
Seribu mimpi yang pernah temani,
Semua tentangmu...
Semua tentangku,
Semua tentang kita,
Semua tentang mereka,
: Yang sama seperti kita...
Yang memiliki cinta...

Aku adalah putera sang fajar,
Yang melukis mimpi dengan seribu impian,
Mencumbui malam temaram gulita yang pekat,
Mencintai cinta yang mencintai aku....
; Seperti Kasih yang memenjarajan hatiku...

Kepada TUHANKU


Ketika itu,
Kita tak pernah menyadari sebuah kisah yang tengah meluluh lantakkan permukaan bumi Aceh,

Air laut yang hampir menenggelamkan tanah pijak mereka,tumpah,melebur semua impian tentang hari esok mereka,
Tanah retak dahsyat seperti telur yang dipecahkan.


Suara rintih,-suara tangis,-mencari...mencari...
- dimana keluarga kami ??
Bumi bergelimang bangkai,Membusuk,menusuk,mencabik hati dan perasaan relung sanubari.
Ketika itu,-tak pernah pula kita sadari tentang kisah yang menyelimuti...Entah,-sudah berapa kali ibu pertiwi kita harus menangis.
Tentang Ranah Minang yang bergetar...menggetar...hingga bangkai-bangkai kembali terhampar...

Gempa...Apakah suatu hukuman?
Ataukah suatu pertanda,-HARI PENENTUAN-MU akan tiba secepat ini?
Lantas, dimana kami harus bersembunyi?
Dimana? Dimana? Dimana, YA, RABB ?

Rumah kami,tanah kami,negeri kami,...tiada kami temui kembali.
Belum reda tangis ini,belum usai sedih ini,airmata kami...airmata kami...
Bumi layaknya matahari senja yang tenggelam.Air bagaikan lautan menyelimuti kembali kepedihan kami. Saudara kami? Ayah kami? Ibu kami? Anak kami? Dimana harus aku titipkan lagi perih ini,YA,RABB?
Apakah dosa kami tiada terampuni lagi bagiMU,wahai DZAT Maha Melihat,Mendengar,SegalaNYA?

Apakah telah tertutup pula pintu taubat bagi hina raga kami sebagai hamba-MU yang lemah?

Airmata belum bisa mengering.Sungguh...Tak bisa terhenti...
Tuhanku,
dipintu-MU aku mengetuk,mohonkan segala taubat atas khilaf hina hambaMU,

; hanya kepada-MU...


----------------------------------- a.r.i.e ( Dedicated for : Banjir 2010 )

Selasa, 18 Mei 2010

NYANYIAN JIWA YANG BERNYANYI


Aku ada disana,
Aku pun dapat berada disini,
- dan aku dapat berdiri diantara belantara dunia
; kotak teka teki yang penuh dengan beratus-ratus ribu tanya.

Ketika dingin mendekapku,menggigil,-
Membuatku beku,
menggunacang dan bangunkanku, mengajakku berlari...
;- kencang lupakan henti.

Apa yang aku cari ?
Dan terus berlari jauh membawa peluh menyeluruh..

Disebuah persimpangan,
Angan mengajak jiwaku singgah sesaat,
Banyak jiwa sedih yang mati rasa tersesat,
enggan bangkit diantara himpit,
enggan berdiri,-apalagi berlari...
; lelap melewati waktu tidur yang lama...

Terbuai menikmati untaian nyanyian lara
melupakan bongkahan cita jiwanya
-yang dulu pernah ada
hingga...Byaaar!-
; pecah rengkah berkeping debu-debu haru.

Aku tadi ada disana,
Aku kini berada disini,
- berdiri diantara belantara dunia menatap
penuh mimpi dengan beratus-ratus ribu tanya.

Mengapa harus diresapi semua sedih ?
Bukankah kesia-siaan akan terus mengejar dan membunuh ?

Mari,-ikutlah denganku,-bangkit
genggam tanganku erat dan menyatulah kepada jiwaku,
Teruskanlah ceritamu,
lanjutkan saja impianmu.

Hidup sebuah hymne
mungkin juga sebuah mars,-jika kau mau menyanyikannya.
Pilih saja dengan jiwamu.
; hanya jiwamu saja !

Mari,bangkit bersamaku.
Mengukir kembali impian-impian dengan hati dan jiwa,
Jangan resapi semua masa sedih ,- pun sebuah tangis,
Itu akan membunuhmu dengan pisau sia-sia,

Hidup sebuah hymne
mungkin juga sebuah mars,-jika kau mau menyanyikannya.
Pilih saja dengan jiwamu.

; hanya jiwamu saja !

Senin, 17 Mei 2010

CERITA SAHABATKU


Sahabatku berceritera
tentang satu masa yang dialaminya,
menggeluti hari disetiap putaran waktunya
; tiada lelah,-penuh ketegaran.

Sahabatku berceritera,
tentang sayat sembilu yang mengiris-iris rasa
diketika jiwa berjalan menapaki jalan berliku,
-turun,
mendaki,
; dan luka.

Lirih pun memadati ruang indera,
sayup mengembara ditengah hamparan cadas
tajam dan perih terasa...

Kudengar suaranya
tatkala seiring bayu yang menggeliat manja mencumbui aku,
Aku tenggelam dalam arus masanya,-perjalanannya
; suatu untaian masa dalam perjuangannya.

Airmata mungkin tak berarti diketika itu
Hanya semangat besar yang tak ternilai dengan sepeser apapun,
; sungguh ! Begitu aku sangat mengagumi ritme kisahnya.

Sahabatku berceritera
tentang satu masa yang dialaminya,
Ketika hari dan waktu yang angkuh menyergapnya,
; tiada lelah,-penuh ketegaran.


Lirih memadati ruang inderaku,
sayup mengembara ditengah hamparan cadas tak berbatas
tajam dan perih terasa...
; dan semakin aku mengagumi ritme dari tiap kisahnya.

Hidup pun seolah nyanyian panjang,
Atau mungkin seperti hymne yang berkumandang,-merjan dalam ketidakpastian
- yang tak pernah berhenti menghadang
dalam tiap detik menembus jalan penuh ilalang.

Airmata mungkin tak berarti diketika itu
Hanya semangat besar yang tak ternilai dengan sepeser apapun,
; hidup sungguh penuh warna, wahai sahabatku
Nikmatilah setiap warnanya,
Pilih warna kesukaanmu,
- goreskanlah pada lembar kertas barumu.
Lukislah sesuka hatimu,

;-begitu aku memaparkannya.

Minggu, 16 Mei 2010

YANG TERKASIH


" Ribuan kilo jalan yang kau tempuh,lewati rintang
; demi aku anakmu..
Ibuku sayang, masih terus berjalan,
; walau tapak kaki penuh darah penuh nanah...

Seperti udara kasih yang engkau berikan,
tak mampu kumembalas,
; ibu...."

Masih terngiang-kah dalam benak kita ?
Tentang arti seorang ibu,
Masih terbersitkah dibenak kita ?
; Tentang hadirnya kita menatap dunia,
Tentang suatu ikhwal yang menjadikan kita
mampu menapaki hari-hari dari liuk dan putar sang waktu ?

Suara tangis kita untuk pertama kalinya,
Tatap mata kita untuk awal kalinya kita menyaksikan fragmen dunia,

Sentuhan penuh rasa kasih yang terbalut cinta
; yang tak pernah ada habisnya,
- hingga kini, saat mata belum terpejam lama.


"Kemarilah, anakku..Dekat dan duduklah dipangkuan ibumu,"
Begitu yang kerapkali terdengar,
- disaat langkah kita awal kalinya untuk menapaki dunia..
Dan belaian,
Sentuhan,
Kecupan itu pula yang menjadikan kita semakin mampu
; menatap dunia plus - minus

Terbersitkah dibenakmu ?
Pikirmu ?
Rasamu ?
Diketika kini renta yang kau lihat,
Keriput yang terlukis padanya,
; tak seperti yang dulu..

Mampukah kini kita menggantikan perannya ?
Menggantikan tentang apa yang pernah ia berikan dulu ?
Menggantikan perannya tentang sebuah kasih dan sayang
; yang ia pancarkan .

Ibu,
Tak ada satu kasih yang mampu menggantikan kasihmu,
Tak ada satu cinta yang besar yang mampu menggantikan
segala ketulusan cintamu.

Jangan,
Jangan sakiti hati ibu,
Jangan,
Jangan hardik ia ketika pikun tengah menimpanya,
; itu bukan inginnya.

Ketika masa kanak kita dulu berpindah padanya kini,
Saat gemetar bibirnya mengeja sebuah nama dan tiada sengaja
-melakukan kesalahan,
Janganlah maki ibumu...
; itu bukan inginnya.

Ibu,
Tak ada satu kasih yang mampu menggantikan kasihmu,
Tak ada satu cinta yang besar yang mampu menggantikan
segala ketulusan cintamu yang mengalir dalam persendian dan darahku.

Sayangilah ibu,
Cintailah ibu,
Meski tidak secantik paras yang kau kenal dulu,
Meski tinggal lemah suaranya yang kini kita dengar,
; dia tetap ibu.

Jangan,-
Jangan sakiti hati ibu,
Jangan,
Jangan hardik ia ketika pikun tengah menimpanya,

;karena semua itu bukan inginnya.
sama seperti kita kecil dulu...


( syair ini didedikasikan untuk IBU )

Jumat, 14 Mei 2010

BUKAN PORNO-GRAFICIOUS


Apa yang tengah kau rasakan ?
Ketika jemariku bermain
membelai pelan dua pipimu,
-ketika bisikanku menyapa ragamu
dibalik daun telingamu.

Apa yang tengah kau rasakan,wahai perhiasan hati ?
Ketika tatapku menatap tajam
merasuk dalam kedua bola matamu,
-ketika larutku tenggelam dalam kecantikanmu.

Sungguh,
Tak dapat aku paparkan,
Aku lumpuh rasa,
Aku terbuai,
; terbelenggu dalam rasa yang kau beri..

Ketika kau peluk,
Kau bisikkan :
"Betapa aku merindukan setiap detik nafas
bersamamu..."

Sungguh,
Tak dapat aku paparkan,
Aksara bungkam dalam bibir yang terkatup rapat.

"Aku dan dirimu
seperti apa yang pernah mereka rasakan.
Sebuah cinta yang penuh misteri.."
- tidurlah dalam buaianku,
rasakan setiap rindu ditiap detik yang kita lewati.

Kekasihku,
Apa yang tengah kau rasakan ?
Ketika jemariku bermain
membelai pelan dua pipimu,
-ketika bisikanku menyapa raga dan bangkitkanmu
dibalik daun telingamu.

Sungguh,
Tak dapat aku paparkan gegap gempita hati saat ini,
Aku lumpuh rasa,mati,
Semakin terbuai dalam alunan perasaanmu,
; terbelenggu dalam imaji hati yang kau beri..

Kau dan aku,
; bukan siapapun .

Kamis, 13 Mei 2010

ARMAGEDON


Ketika itu,
Saat itu,
Waktu keruh,
Berubah berpeluh.

Jiwa hambar,
Menggelepar,
Terlempar,
;Lapar.

Purnama memudar,
Gelap menyekapa dalam raut penuh kelam,

Jiwa meronta dalam tanya,
Apakah ini ?
Tentang apa ini ?
Mengapa ini ?
Dimana kini ?
Terus dan tiada henti
-membingungkan diri sendiri...

Perahu retak,
Airmata disana-sini,

Dimana,wahai sahabat hati ?
Mencarimu hingga ujung persada dunia,
; tak kunjung bertemu...
Dan dimana lagi harus kaki ini dijejakkan.

Mungkinkah SANG RAJA murka ?
Karena sudah tidak ada lagi kasih sayang diri
untuk mengasihi dengan tulus penuh rasa cinta
yang terjadi di bumi ini.

Dimana,wahai sahabat hati ?
Mencarimu hingga ujung persada dunia,
; tak dapat meraih wujud dan jasadmu.

Ketika itu,
Saat itu,
Waktu keruh,
Berubah berpeluh.

Jiwa meronta dalam tanya,
Apakah ini ?
Tentang apa ini ?
Mengapa ini ?
Dimana kini ?
Terus dan tiada henti
-membingungkan diri sendiri...

; Semua rata tak berbekas.

Rabu, 12 Mei 2010

PENCINTA GILA


Aku memilihmu
bukan untuk mengharapkanmu mencintai aku
Aku memilihmu
untuk sekedar menyelami satu hal yang terlahir
dari dalam bongkahan hatiku,

Aku memilihmu
-dengan satu tujuan dapat menikahi perasaanmu
Kusandingkan pada rasa dan perasaanku,
Seperti pengantin liukan masa yang tengah mencumbui
kehidupannya.

Aku memang gila,
Dan terlahir untuk menggilakan kau
-yang kelak tergila-gila padaku,

Nikmati saja gegap gempitaku yang gila,
tapi, untukmu saja.
; karena kuyakin,
-rasa kesalmu semakin membuatku gila.

Biarkan aku memilihmu saja,
untuk kujadikan potret imaji dan kupajang
pada dinding hatiku,

Kesedihan sudah berlalu,
Luka pun sudah sirna,
Karena gilaku menggilakanmu,
; ya !

Selasa, 11 Mei 2010

PIJAR PILAR


Sebuah kenangan pahit yang kukecap manis,
Seuntai harapan besar yang menyusut kecil....dan memudar.
; Pecah....

Apa yang tengah aku cari?
Dalam hiruk pikuk waktu yang berlari..

Apa yang aku cari ?
Diketika celoteh bising tiada henti.

Duniaku,
Dunia penuh warna,
Bertabur bintang,
Bermahkota rembulan...

Duniaku,
Tak terhingga warna yang aku goreskan pada canvas hidupku,
Menghiasi lembaran-lembaran sebuah catatan harian dalam waktu berjalan...

Duniaku,
Terbingkai dua warna ; hitam dan putih,
Melalui lorong-lorong senja yang berganti pagi,
Melalui suka dan meliuki nestapa...

Apa yang aku cari?
Sebuah pasti dalam arti...

Seperti engkau yang bermimpi ?
Seperti aku yang menggeluti impian.

Celoteh kosong berbau gosong,-Panas dan hanguskan inderaku,
Menyayat hati seolah 'ku tak berarti...

Padahal sepertimu,
Yang mengagumi mimpi menjadi impi,
Sama saja...
Berawal dari lembaran kertas yang putih.

Bukan,
Bukan kepada kau aku bakar api ini,
Bukan ,
Bukan pula engkau yang membakar ini,
; jangan kau halangi. Apa inginku kini...

Sebuah kenangan pahit yang kukecap manis,
Seuntai harapan besar yang menyusut kecil....dan memudar.
; aku nikmati seadanya,
seperti jamuan malam yang tersaji diatas meja makan.

Begitu lahap aku santap,
Begitu saja..

Duniaku,
Dunia penuh warna,
Bertabur bintang,
Bermahkota rembulan...
Malam dan pagi menghiasi ragaku...

Duniaku,
Tak terhingga warna yang aku goreskan pada canvas hidupku,
Menghiasi lembaran-lembaran sebuah catatan harian dalam waktu berjalan...
Sepertimu,
; Aku pun punya impian,
Yang aku susun pada sebuah album relung hati,

Ya...


FILE ( For Individual Lost Ego )

EGOLIPTHYCA

Bukan sebuah syair sentimentil yang tengah aku lantunkan,
-hanya untaian kata kecil sebagai pelepas penat diri jauh dari kurungan waktu lalu,

Ketika sayupku memanggilmu,-ketika harapku menginginkan jasad hidupmu
menyandingi setiap langkah kecil disetiap putar hari,
Mugkinkah terdengar ?
atau mungkin lirih yang kau rasa ?

Bukan tentang paksa yang mengharuskanmu,
ikhlas yang bersenandung senantiasa bertutur sapa padamu,
-untuk tinggal sejenak dan temani sunyiku...

Hari esok memanglah sebuah teka-teki waktu,
Namun apakah kita harus terpaku saja ?- tanpa harus memikirkan
sebuah kisah tentang esok hari ?

Kau berpangku tangan dibalik cadar kelam
Yang memeluk tanya dalam aksara bisu,
-yang sulit bagiku untuk menerka reka raut inginmu...

Mugkinkah terdengar ?
atau mungkin lirih yang kau rasa ?
Ketika sayupku memanggilmu,-ketika harapku menginginkan jasad hidupmu
untuk tinggal sebentar menemani aku...

Kau masih terdiam
Dalam segenap tanya yang memenjarakanku,
-tanpa rasa yang aku mengerti...

Datanglah meski sesaat padaku,
Agar aku bisa mengajarkanmu tentang cinta dan bahasa hati,
Seperti hektar taman yang pernah kita lalui waktu lalu,
Seperti airmata yang mengalir dikedua bola mata kita,
-saat kita merenungi dan meresapi makna diri...

Bukan sebuah syair sentimentil yang tengah aku lantunkan,
-hanya untaian kata singkat sebagai pelepas penat diri jauh dari kurungan waktu lalu,
Untuk saling kita pahami arti sebuah rasa,
Arti sebuah cinta yang begitu ego untuk kita lalui...

; itu saja !

Senin, 10 Mei 2010

CINTA KEKUATAN HATI YANG BICARA


Duniaku,
Dunia penuh ragam warna
-yang aku goreskan pada selembar kertas putih

Duniaku,
Dunia penuh segala kisah cinta
-suka,sedih,canda,tawa,yang bermain penuh keindahan
dalam putaran waktu yang membungkus setiap perjalanannya.

Kutemui awal yang penuh dengan goresan masa
-bersenda gurau dan mencumbui disetiap mimpi perjalanan hari.
Bukan tentang kesendirian,
-bukan pula tentang sia-sia dan belaka.

Ketika cinta yang bersemi,
seperti pelataran taman yang ditumbuhi hijau rumputnya,
diantara segarnya dedaunan dan indahnya pepohonan.

Dan aku ikuti segala ingin,
Berlari dan menyusuri setiap sisi hijau tamannya,
-memetik buahnya, menikmati rasanya, dan berbagi dengan tulus hati yang bersenandung.

Sepertimu yang tengah merasakan aura cintanya,

Duniaku,
Cinta yang membangunkan rasa kasih,
Cinta pula yang menyelimuti jasad dalam tulus hati yang bicara,

Bukan untukku,
Bukan pula untukmu,
Namun untuk mereka yang memili rasa cinta yang mencintai cinta.
; begitu saja !

CINTA KERAMAIAN YANG SUNYI

Dimana engkau,wahai penjaga hati
Diketika ragaku memanggilmu...-saat waktu semakin memusuhi aku,
Diketika malam menangis pilu,-diantara belukar kelam yang menjenuhkan..
Buta,
Aku buta,
-mataku terkatup tak dapat menatap rona aura disekitarku.
Perih,
-perih sekali
Rembulan memangku dalam kelam temaram
sunyi dan senyap,
sepi terkurung seperti nyawa yang terkubur...
Aku ada ditengah belantara bisu
bersama kekasih yang kudapatkan dalam keramaian senyap.
Mencarimu,-entah dimana ?
Tak kutemui disetiap titian jalan hariku,
; aku buta...buta aku...
- namun hatiku,tidak buta..
Dimana engkau, penjaga hatiku
Saat ragaku memanggilmu,- saat dingin semakin menikamku.
; mencarimu sulit,-tak kutemui dimanapun langkah mencari.
Mengertilah,
; meski hanya saat ini saja.