" Ribuan kilo jalan yang kau tempuh,lewati rintang
; demi aku anakmu..
Ibuku sayang, masih terus berjalan,
; walau tapak kaki penuh darah penuh nanah...
Seperti udara kasih yang engkau berikan,
tak mampu kumembalas,
; ibu...."
Masih terngiang-kah dalam benak kita ?
Tentang arti seorang ibu,
Masih terbersitkah dibenak kita ?
; Tentang hadirnya kita menatap dunia,
Tentang suatu ikhwal yang menjadikan kita
mampu menapaki hari-hari dari liuk dan putar sang waktu ?
Suara tangis kita untuk pertama kalinya,
Tatap mata kita untuk awal kalinya kita menyaksikan fragmen dunia,
Sentuhan penuh rasa kasih yang terbalut cinta
; yang tak pernah ada habisnya,
- hingga kini, saat mata belum terpejam lama.
"Kemarilah, anakku..Dekat dan duduklah dipangkuan ibumu,"Begitu yang kerapkali terdengar,
- disaat langkah kita awal kalinya untuk menapaki dunia..
Dan belaian,
Sentuhan,
Kecupan itu pula yang menjadikan kita semakin mampu
; menatap dunia plus - minus
Terbersitkah dibenakmu ?
Pikirmu ?
Rasamu ?
Diketika kini renta yang kau lihat,
Keriput yang terlukis padanya,
; tak seperti yang dulu..
Mampukah kini kita menggantikan perannya ?
Menggantikan tentang apa yang pernah ia berikan dulu ?
Menggantikan perannya tentang sebuah kasih dan sayang
; yang ia pancarkan .
Ibu,
Tak ada satu kasih yang mampu menggantikan kasihmu,
Tak ada satu cinta yang besar yang mampu menggantikan
segala ketulusan cintamu.
Jangan,
Jangan sakiti hati ibu,
Jangan,
Jangan hardik ia ketika pikun tengah menimpanya,
; itu bukan inginnya.
Ketika masa kanak kita dulu berpindah padanya kini,
Saat gemetar bibirnya mengeja sebuah nama dan tiada sengaja
-melakukan kesalahan,
Janganlah maki ibumu...
; itu bukan inginnya.
Ibu,
Tak ada satu kasih yang mampu menggantikan kasihmu,
Tak ada satu cinta yang besar yang mampu menggantikan
segala ketulusan cintamu yang mengalir dalam persendian dan darahku.
Sayangilah ibu,
Cintailah ibu,
Meski tidak secantik paras yang kau kenal dulu,
Meski tinggal lemah suaranya yang kini kita dengar,
; dia tetap ibu.
Jangan,-
Jangan sakiti hati ibu,
Jangan,
Jangan hardik ia ketika pikun tengah menimpanya,
;karena semua itu bukan inginnya.
sama seperti kita kecil dulu...
( syair ini didedikasikan untuk IBU )