
Ketika itu,
Kita tak pernah menyadari sebuah kisah yang tengah meluluh lantakkan permukaan bumi Aceh,
Air laut yang hampir menenggelamkan tanah pijak mereka,tumpah,melebur semua impian tentang hari esok mereka,
Tanah retak dahsyat seperti telur yang dipecahkan.
Suara rintih,-suara tangis,-mencari...mencari...
- dimana keluarga kami ??
Bumi bergelimang bangkai,Membusuk,menusuk,mencabik hati dan perasaan relung sanubari.
Ketika itu,-tak pernah pula kita sadari tentang kisah yang menyelimuti...Entah,-sudah berapa kali ibu pertiwi kita harus menangis.
Tentang Ranah Minang yang bergetar...menggetar...hingga bangkai-bangkai kembali terhampar...
Gempa...Apakah suatu hukuman?
Ataukah suatu pertanda,-HARI PENENTUAN-MU akan tiba secepat ini?
Lantas, dimana kami harus bersembunyi?
Dimana? Dimana? Dimana, YA, RABB ?
Rumah kami,tanah kami,negeri kami,...tiada kami temui kembali.
Belum reda tangis ini,belum usai sedih ini,airmata kami...airmata kami...
Bumi layaknya matahari senja yang tenggelam.Air bagaikan lautan menyelimuti kembali kepedihan kami. Saudara kami? Ayah kami? Ibu kami? Anak kami? Dimana harus aku titipkan lagi perih ini,YA,RABB?
Apakah dosa kami tiada terampuni lagi bagiMU,wahai DZAT Maha Melihat,Mendengar,SegalaNYA?
Apakah telah tertutup pula pintu taubat bagi hina raga kami sebagai hamba-MU yang lemah?
Airmata belum bisa mengering.Sungguh...Tak bisa terhenti...
Tuhanku,
dipintu-MU aku mengetuk,mohonkan segala taubat atas khilaf hina hambaMU,
; hanya kepada-MU...
----------------------------------- a.r.i.e ( Dedicated for : Banjir 2010 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar