Bukan sebuah syair sentimentil yang tengah aku lantunkan,
-hanya untaian kata kecil sebagai pelepas penat diri jauh dari kurungan waktu lalu,
Ketika sayupku memanggilmu,-ketika harapku menginginkan jasad hidupmu
menyandingi setiap langkah kecil disetiap putar hari,
Mugkinkah terdengar ?
atau mungkin lirih yang kau rasa ?
Bukan tentang paksa yang mengharuskanmu,
ikhlas yang bersenandung senantiasa bertutur sapa padamu,
-untuk tinggal sejenak dan temani sunyiku...
Hari esok memanglah sebuah teka-teki waktu,
Namun apakah kita harus terpaku saja ?- tanpa harus memikirkan
sebuah kisah tentang esok hari ?
Kau berpangku tangan dibalik cadar kelam
Yang memeluk tanya dalam aksara bisu,
-yang sulit bagiku untuk menerka reka raut inginmu...
Mugkinkah terdengar ?
atau mungkin lirih yang kau rasa ?
Ketika sayupku memanggilmu,-ketika harapku menginginkan jasad hidupmu
untuk tinggal sebentar menemani aku...
Kau masih terdiam
Dalam segenap tanya yang memenjarakanku,
-tanpa rasa yang aku mengerti...
Datanglah meski sesaat padaku,
Agar aku bisa mengajarkanmu tentang cinta dan bahasa hati,
Seperti hektar taman yang pernah kita lalui waktu lalu,
Seperti airmata yang mengalir dikedua bola mata kita,
-saat kita merenungi dan meresapi makna diri...
Bukan sebuah syair sentimentil yang tengah aku lantunkan,
-hanya untaian kata singkat sebagai pelepas penat diri jauh dari kurungan waktu lalu,
Untuk saling kita pahami arti sebuah rasa,
Arti sebuah cinta yang begitu ego untuk kita lalui...
; itu saja !
2 komentar:
Terinspirasi oleh puisi ini:
"Egoku,
Bilamana kenanganmu begitu indah,
Tak kan kubiarkan kau lepas dari jiwaku
Walau jasadmu telah sirna,
Namun kuasamu tetap kudekap.
Tuk kutanam kau dan kupelihara
Menjadi salah satu penghias taman hatiku,
Tempatku bertenang jiwa saat penat
Tempatku sejukkan darah saat mendidih
Tempatku tegarkan kaki dikala lemah
Tempatku merasukkan keberanian saat gentar
Dan tak kan kubiarkan aku mati dalam kekalahan
Dan wangimu kan selalu kuhirup dalam tiap hela nafasku
Menjadi kekuatan bagi tiap langkahku
Demi kebahagiaan dunia."
Terinspirasi oleh puisi ini:
"Egoku,
Bilamana kenanganmu begitu indah,
Tak kan kubiarkan kau lepas dari jiwaku
Walau jasadmu telah sirna,
Namun kuasamu tetap kudekap.
Tuk kutanam kau dan kupelihara
Menjadi salah satu penghias taman hatiku,
Tempatku bertenang jiwa saat penat
Tempatku sejukkan darah saat mendidih
Tempatku tegarkan kaki dikala lemah
Tempatku merasukkan keberanian saat gentar
Dan tak kan kubiarkan aku mati dalam kekalahan
Dan wangimu kan selalu kuhirup dalam tiap hela nafasku
Menjadi kekuatan bagi tiap langkahku
Demi kebahagiaan dunia."
Posting Komentar