Sabtu, 17 Juli 2010

BELUM ADA JUDUL


Jika ini bukanlah suatu hal yang terjadi
- akankah terlupa semua impian ?
atau baiknya berhayal hingga waktu saja
datang merenggut hati dan jiwa-jiwa hidup
bagai pepohonan kering dan tumbang ,

Mungkin pula bukan sebuah harap,
Karena raga sudah tak berarti apa-apa
Bagai sisa yang terlupakan...

Mentari yang tersapu mega
dalam bayang tak kasat mata,
Dedaunan yang jatuh ke tanah
- menjadi kering dalam kecap sang waktu,

Aku melihat sekitarku
berkata dalam bahasa diam,
Tanpa aksara terwujud,
Hanya terpaku dan mengagumi diam

Aku lihat pula kawanan walet
yang bermain menggelayuti mega senja,
Mencumbui laut dan menerkam mangsanya
; dia mampu bertahan, dia mampu mewujudkan hidup
dalam kehidupannya...

Jika ini bukanlah suatu hal yang terjadi
- akankah terlupa semua impian ?
atau baiknya berhayal hingga waktu saja
datang merenggut hati dan jiwa-jiwa hidup
bagai pepohonan kering dan tumbang ,

Begitu aku mendekap seribu inginku
Yang pernah dicuri kawanan waktu berlalu,
Tentang cinta,
Harapan,
-dan kepastian jiwa yang mencintai,

Kaukah digaris senja ?
Diatas tapal batas berpayung mega mengelam ?
Yang memanggil sayup ragaku menembus dimensimu?
Bercadar hangat dalam simpul senyum kedamaian...

Bilakah kau pahami sesuatu yang tersembunyi
dibalik celah hati menyanjungmu,
Dan cinta akan terjelang mengitari kita...

Ini bukan mimpi dan tragedi hati,
Ketika seruanku mengetuk dinding peraduan senja hatimu,
Menyalakan perapian dalam tungku penuh kedamaian,

Bukan pula mimpi yang aku berikan,
Dan aku meyakinkan hati,- seperti aku tetap terus
menjagakan hatimu dari hati yang akan menodaimu,

; Dan itu aku untukmu !



a.r.i.e
18 July 2010 at 01.30am

Selasa, 13 Juli 2010

JENGAH



Sudah,
Aku sudah berlari menelusuri pelataran ini
-hingga titik akhir lelahku,
Tak peduli,
; karena hidup memang harus seperti ini.

Sudah,
Aku sudah melepaskan sejuta ragu dan penatku
-akan masa yang sulit dimengerti,

Semuanya telah aku tanggalkan
-telanjang diatas hamparan tanpa batas panjang.

Aku kubur segala rindu
Yang dulu pernah meraja dan merayu,
Yang dulu pernah mengukir kalbu
; dalam bahasa bermahkota cinta.

Aku telah puas merasakan dosa,
Membersit luka pada dinding seorang hawa,
Yang dulu mengajakku larut dalam drama satu peran
miliknya,
; aku terbuai.- dan sungguh aku sesali.

Bukan salahmu,
Bukan pula inginku,
Meski kita sama sekali tak memahami arti
apa yang terjadi...

Sudahlah,
Aku
Kau
-atau apapun
; adalah kenangan lalu.

Kenangan masa kegelapan,
Penuh kepekatan dalam cakrawala bertabur hitam,

Perbaiki saja segala keluh kesah dan gelisah
yang dulu pernah membakar hati kita tak bersisa,
Agar dosa ini mampu kita leburkan,
Mampu kita kuburkan,
; tanpa berulang kembali.

Sudah,
Aku sudah melepaskan sejuta ragu dan penatku
-akan masa yang sulit dimengerti,

Semuanya telah aku tanggalkan
-telanjang diatas hamparan tanpa batas panjang.

; Aku lelah !


Vellodrome story 1995,-
a.r.i.e

Senin, 12 Juli 2010

JELAGA JIWA


Waktu berjalan
Berlari
Tanpa lelah
Lupa peluh
- melaju .

Airmata
Menangis
Sedih
Trenyuh
Mengais
; penuh haru

Aaaaaaah !
Hening sesaat
Bingar melagu indah,
- bukan kelucuan .

Darah
Merah merona

Mata terkatup
Airmata berurai harap,

Maaf !
; aku tak bisa menghitung dosaku

Airmata mengalir
Penyesalan mungkin sudah berakhir.

Jumat, 09 Juli 2010

BISAKAH ?


Bisakah ?
Untuk sejenak temani ragaku,wahai hati penuh cinta..
Menemani kesendirianku menyusuri pematang rupa dunia
yang membingungkan ini...

Bisakah ?
Untuk mencumbui keresahanku,wahai hati penuh rasa...
Ku takut semua impian menjadi sirna dalam sia-sia

Peluklah aku,wahai jiwa penuh perasaan
Agar tenang dapat aku miliki dalam dunia yang penuh hiruk pikuk ini

Menikmati sejuknya angin senja,
Merangkai mimpi diantara pijar-pijar asa yang aku pugar kembali
Menyatukan kembali hati yang terpecah insan yang menangis sepi,

Bisakah ?
Sejenak kau temani ?
Sejenak kau mengerti ?
Sejenak kau pahami ?

Sandiwara yang kita liuki adalah temporer sebuah mimpi,
Banyak yang tertawa,
Banyak yang menangis,
Banyak yang takut,
; bersembunyi dari kenyataan yang bercadar belaka.

Peluklah aku,wahai jiwa penuh perasaan
Agar tenang dapat aku miliki dalam dunia yang penuh hiruk pikuk ini

Bersamamu aku yakinkan pendirian ini,
Meyakini segala arti duniawi
pemberian Illahi
; yang kini kita arungi...

Bisakah ?
Untuk sejenak temani ragaku,wahai hati penuh cinta..
Menemani kesendirianku menyusuri pematang rupa dunia
yang membingungkan ini...


; sebentar saja !


a.r.i.e

Kamis, 08 Juli 2010

M . O . M


Aku goreskan beberapa catatan ini
Tentang hidup dan kehidupan

Diantara derap langkah masa
Berbaur deru-debu kisah jiwa

Dunia berawal dari titian kelam
Gelap dan semu bercadar dalam gulita

Apa ?
Mengapa?
Dimana ?

Selalu pertanyaan itu berputar.

Wanita sepuh
Keriput , - menghiasi usia tiga perempat abad

Aku memanggilnya IBU
- karena catatan kecilku ada pada sanubarinya.

Aku goreskan beberapa catatan ini,
Tentang ritme hidup dan kehidupan
yang beriring dengan lantun suara hati seorang ibu

Jiwanya jiwa yang memiliki setangkup rasa
yang tak pernah menuntut balas,

Wanita sepuh
Keriput , - menghiasi usia tiga perempat abad
Begitu saja waktu yang melintasinya cepat

Kupanggil IBU padanya,
; karena kutahu, catatan kecilku selalu ada disanubari putihnya.




Poem dedicated for My MOM / a.r.i.e

JINGGA PELATARAN HATI


Jika aku sedang bermimpi,
-pastinya aku tak memiliki apapun dalam hatiku,
Yang kutatap adalah kongkret yang tersaji,
Berselimut makna dalam rangkul cerita tak berbatas..

Bukan untai puisi yang aku rangkai,
Bukan pula sentimentil hati bermahkota aksara

Semua adalah proses kehidupan yang aku bingkai
melalui perca-perca pecah kaca dunia,
Aku pelajari dan cintai kenyataan
; seperti aku mencintai jiwa seorang kekasih
yang mencintai aku sebagai kekasihnya

Aku sedang tidak bermimpi
bilamana aku menyaksikan hidup penuh dengan warna
dalam ragam yang berbeda,
bilamana aku menyaksikan hidup penuh suka dan kedukaan,

Bathinku menyeru dalam aura kalbu,
Mengantarkanmu dalam peraduan rasa dalam hati yang tersemat.

Inilah realis, - palung jiwa yang berkata
Bukan untai puisi yang aku rangkai untukmu ,
Bukan pula sentimentil hati bermahkota aksara merayumu

Karena Kuasa Illahiah yang mempertemukan jasadmu bagiku,
Lewat waktu, dan laju hari-hari yang berkejar-kejaran
disekitarku,

Untukmu ,
; betapa cinta ini tak bersisa.


a.r.i.e

Jumat, 02 Juli 2010

USANG RUANG


Tidak akan pernah terjadi lagi,-harapku ketika kau mulai menjauh,
Dan puing-puing masa lalu telah habis
tak bersisa,

Amarah yang terkubur dalam jiwa,-seperti hampa ada dan tiada
meski pernah membunuhmu melupakan aku,

Betapa lucu perjalanan ini
Tatkala lugu kita mempengaruhi
Untuk saling mencumbu,mencinta, -gila !

Kita lupakan segala cara
Hingga kau terlelap dalam buai swargaloka
yang aku eratkan pada hatimu,

Kini aku mencarimu
Sampai dipenghujung waktu tak menentu
Melupakanmu sangat sulit bagiku,
; namun sulit kutemui .

Ini catatan harianku
Yang aku tulis sendiri saat mata belum mengatup lelah
Tatkala malam kelam membisu,
Tatkala mata pagi hampir membuka bibir-bibir terang,

Ini catatanku sendiri,
Yang aku tuliskan disebuah buku
diatas lembaran usang,

Tentangmu,
; meski kau tak pernah mengetahuinya.

Tidak akan pernah terjadi lagi,-harapku ketika kau mulai menjauh,
Dan puing-puing masa lalu telah habis
tak bersisa,

Atau mungkin baiknya kita lupakan saja ?


a.r.i.e

Rabu, 16 Juni 2010

SEMESTINYA CINTA


Jika kau adalah kasih
semestinya kau memiliki segala rasa
yang sepatutnya kau berikan

Bukan semata-mata untuk pujian
sekecil apapun adanya,

Karena cinta tidak menuntut apapun yang diterima
namun satu hal yang diberi

Jika kau adalah keteduhan
semestinya kau memiliki taman-taman
yang senantiasa diatasnya terdapat pepohonan rindang
yang mampu melindungi gerah dan teriknya matahari
dikala sengat sinarnya menjadi-jadi

Jika kau adalah air
semestinya telah kau sirami kering agar senantiasa
mampu berseri kembali dan melupakan kemarau panjang,

Disanalah terdapat cinta yang sesungguhnya,
Laksana kasih sejati,
Laksana rindang teduhnya pepohonan yang hijau meghiasi taman
pelataran hati,
Laksana air yang dapat membasuhi segala kering yang mematikan

Tanpa menuntut apapun yang akan diberikan oleh apa dan siapapun adanya,
Mampu memberi tanpa meminta
Mampu mengasihi tanpa menuntut belas kasih

Dan
Bukan semata-mata untuk pujian,harapan,
sekecil apapun adanya,

Karena cinta tidak menuntut apapun yang diterima

; namun satu hal yang diberi..



a.r.i.e

Senin, 14 Juni 2010

MUKADIMMAH CINTA


Cinta mengajarkan aku tentang kedamaian
dari hati seorang kekasih yang dirajut dalam impian
masa lalu menyibak perasaan keluh,

Disana terdapat untaian kata syurga yang bersenandung
dalam pijar santun lanksan menuntun hati
pada peraduan kasih,

Seperti serangga yang mencumbui manis kelopak bunga
diatas hamparan hijau taman dan dedaunan,

Meski terkadang menitikkan airmata diantara redup tanya
berkepanjangan,

Tak mengerti dan begitu indah
tersaji dalam bahasa qalbu,

Cinta mengajarkan aku tentang cumbuan masa
yang pernah diliuki indah bersahaja
Tautan rasa dua hati yang berbeda
Tautan kasih dalam bahasa yang sesungguhnya tak dimengerti,

Cinta tak mengharapkan balas,
Meski pecutan menyayat kulit dan sayap-sayapnya,
Cinta tak menuntut balas dari apa yang pernah disanjungnya
penuh rasa dan kasih sayang,

Cinta bukanlah cakrawala yang ditakuti,
namun hati yang teduh untuk dimiliki.

Disana terdapat untaian kata syurga yang bersenandung
dalam pijar santun lanksan menuntun hati
pada peraduan kasih,

Meski terkadang menitikkan airmata diantara redup tanya
berkepanjangan,

Sulit untuk dimengerti dan begitu indah
tersaji dalam bahasa qalbu yang bersenandung rindu.

Sabtu, 12 Juni 2010

TANAH MERAH BASAH


Ada airmata lagi yang mengalir
mengitari sebuah lubang - tempat peristirahatan abadi
rumah bagi jiwa dan ketenangannya,
jauh dari hiruk pikuk dunia,
jauh dari caci maki dan keangkuhan jiwa

Tidak ada lagi yang patut dibanggakan atas siapa kita,
Semua sudah tak berarti dan tak ada yang bisa dibawa pergi

Semua harta,
Saudara,
Sanak Family, bahkan kedudukan yang dulu pernah kita raih

Semua sama dihadapan-NYA,
Kecil dihadapan-NYA,

Ditemani gelap suasana kamar yang baru,
Hanya beberapa senti saja dari diri,

Ada airmata lagi yang mengalir
mengitari sebuah lubang - tempat peristirahatan abadi
rumah bagi jiwa dan ketenangannya,
jauh dari hiruk pikuk dunia,
jauh dari caci maki dan keangkuhan jiwa

Malam adalah ribuan waktu dalam kegelapan yang kosong,
Sendiri,
Hampa dalam kesunyian,

Tak ada yang bisa dibawa
selain diri dan amal apa yang telah kita lakukan
diatas fana dunia

Jauh
Sunyi dari keramaian

Gelap
dan jauh dari gemerlap dunia

Tuhan Maha SegalaNYA
Memiliki apa yang telah dikehendakiNYA,

Rabu, 09 Juni 2010

HATI


Ini tentang bahasa hati,
Aksara diam namun dapat dirasakan
Aksara bisu namun dapat menggugah rindu...

Semua dewasa dalam palungan cinta,
sebegitu adanya cinta yang mengajarkannya
dengan penuh rasa kasih dan sayang,
Meliuki taman-taman surga penuh perasaan dan kalbu jiwa

Dan
Cinta pula-lah yang memandikan segala lusuh raga masa lalu
Laksana hina kembali dalam sejuta kesucian
kemudian dibungkus oleh wewangian penuh rasa dan kasih sayang

Cinta begitu memanjakannya,
Memanjakan hati dengan sejuta kerinduan,
Cinta pula yang mengajarkan tentang suci bahasa kalbu
tatkala kalbu tertutup oleh sejuta ragu
melanda,
menyeruak,
dan memporak porandakan ketentraman,
hingga cinta membangkitkannya menjadi kalbu yang penuh rasa kasih.

Hati menjadi taman
dimana jiwa-jiwa dapat bersenandung dengan damainya,
dimana jiwa-jiwa dapat menyelaraskannya dengan penuh kesukaan
tanpa kesedihan lagi,

Semua dewasa dalam palungan cinta,
sebegitu adanya cinta yang mengajarkannya
Laksana hina kembali dalam sejuta kesucian
kemudian dibungkus oleh wewangian penuh rasa dan kasih sayang

Ini tentang hati,- yang berbicara,
Aksara diam namun dapat dirasakan
Aksara bisu namun dapat menggugah rindu.

; dan kita tengah memerankannya..

Jumat, 04 Juni 2010

BUKAN ROMAN PICISAN



Bunga mawar yang aku berikan
masihkah kau jaga dan sirami ?
Masihkah terasa wangi yang menyelimuti hati ?
- ataukah hilang dimakan waktu dan usia yang berjalan ?

Bunga mawar yang pernah aku berikan,
masihkah kau ciumi aromanya ?
Seperti dulu kau mengecupku disuatu masa gemerlap hati,

Aku tak dapat memaparkannya,
Mulutku terkunci,
Lidahku kelu,
Mataku hanya dapat menikmati
kedua bola matamu yang cantik
- menari dalam pikiranku.

Kita dalam usia hijau,
memerankan fragmen hati seadanya,
Begitu dan begitu saja waktu angkuh mengatakannya

Masihkah ada satu kenang tentangku, wahai dewiku ?
Atau mungkin tlah kau lupakan, - dan
kau kubur saja dihalaman belakang rumahmu ?

Lembar suratku dulu ?
Masihkah kau membacanya seperti saat ini
ditengah sepi yang kau lalui,
; seperti saat ini .

Aku tak dapat memaparkannya,
Mulutku terkunci,
Lidahku kelu,
; tanpa aksara ...
- bisu.

Masihkah ada satu kenang tentangku, wahai dewiku ?
Atau mungkin tlah kau lupakan ?

Bunga mawar yang aku berikan dulu,
masihkah kau jaga dan sirami ?

Masihkah terasa wanginya yang senantiasa menyelimuti hati ?
- ataukah hilang dimakan waktu dan usia yang berjalan ?

Aku tak dapat memaparkannya,
Mulutku terkunci,
- dan semakin aku larut dalam cerita ini.


a.r.i.e

"Bu...


Bu,
Seperti yang pernah engkau ceritakan, - tentang perjalanan panjang
Berliku, terjal, mendaki, berduri
Tak pernah lelah dalam kisah yang terkadang luka,

Bu,
Ketika tanganmu gemulai membelai raut wajah suci yang kini penuh dosa
-penuh dengan perca-perca bantah dalam ribuan makian kini,
Aku…
Tentang masaku ,-dunia penuh dengan coretan warna tak jelas.

Dan serumu mengalir dalam nadiku,
Nada datar suaramu menggema merasuk dalam telingaku,
“Ceritamu, Nak
Perjalanan yang panjang dalam waktu berduri tajam…”

Bu,
Seperti dongeng kisah yang pernah engkau ceritakan, - tentang perjalanan panjang
Berliku, terjal, mendaki, berduri tajam
; tentang pahit yang terkecap manis.

Aku terlelap dalam sentuhan penuh doa yang terlantun
-melalui bibirku yang kini telah mengerut
Aku menangis dalam alunan masa-masamu yang terjal meradang duka,

Bu,
Ketika tanganmu gemulai membelai raut wajah suciku yang kini penuh dosa
-penuh dengan perca-perca bantah dalam ribuan makian kini,
Aku…
Tentang dunia penuh dengan coretan warna tak jelas.



"Bumi Ruwa Jurai, Desember 2004
a.r.i.e

Kamis, 03 Juni 2010

LUPA YANG LALU ( Syair tanpa huruf 'R' )



Ketika lelah langkah lusuhku
melagukan hymne tentang jiwa,
Lembayung jingga yang lemah melambai
sayup,-pelan memecah,
- menyusup ke dalam sunyi melintasi bianglala,

Lupa,
Aku lupa waktuku melangkah,
Meliuki kenelangsaan yang telah lalu,
Lupa,
; dan aku melupakannya.

Kau-kah ?
Kaukah imaji yang memelukku ?
Mencumbui aku ?
Hingga kini ?

Lupa,
Bukan kesengajaan untuk melupakannya,
Bukan pula aku enggan mengingatnya,
Sampai batas waktu matiku,
- tatkala mata ini mengatup pelan kelopaknya.

Kau-kah ?
kaukah itu ?
- yang meliuki aku, waktuku,
dengan bahasa imaji kalbu untukku...

Aku bingkai semua catatan ini
tanpa kesedihan dan kenelangsaan lagi,
Ku tak mau apapun hina melintasi kembali,

Ketika lelah langkah kakiku,
Lembayung jingga yang lemah melambai
sayup,-pelan memecah,
- menyusup ke dalam sunyi melintasi bianglala,

; Semua tetap begitulah adanya.



a.r.i.e

Rabu, 02 Juni 2010

GITA RUPA-RUPA CINTA



Jika cinta tak memandang apa dan siapa,
-mengapa harus ada luka ?
Bukankah cukup rasa mengerti dan pengetian saja ?

Apakah cinta ?
Begitukah cinta ?
Yang kerapkali memenuhi ruang tanya Adam dan Hawa.

Bergeloranya rasa
yang terpacu segenap hasrat dalam pijar kerinduan
menyerupai api dalam tungku yang awalnya adalah hampa

Jika cinta tak memandang rupa,
- mengapa banyak jiwa yang menutupi dirinya ?
Dengan cadar menyembunyikan segala makna rupa.

Ataukah enggan ?
Mungkinkah hina ?
Atau mungkin tak memiliki arti sama sekali ?

Cinta adalah kesedihan
yang dibungkus dengan keriangan,
yang berjalan dengan kepura-puraan bahasa sukacita
; karena cinta awalnya adalah nelangsa hati dan airmata

Cinta tak mengharapkan balasan
melainkan apa yang pernah ia berikan tulus penuh kasih,
Cinta tak mengharapkan belas kasih,
- melainkan apapun yang ia berikan penuh dengan keikhlasan.

Cinta berada diantara bumi dan langit dengan Illahiah adanya
menyerukan suara hati dalam kekuatan bahasa kalbu,
Merasuk pada raga dan ruh setiap jiwa yang memiliki rasa
dan kasih sayang,

Bergeloranya rasa
yang terpacu segenap hasrat dalam pijar kerinduan
menyerupai api dalam tungku yang awalnya adalah hampa

; begitulah adanya .


a.r.i.e

Selasa, 01 Juni 2010

PAGI YANG INDAH SEKALI


Pagiku
yang aku temui,
tenang,
setagkup harap bermain bersama mata awalnya hari..

Embun yang menetes,
segar,
-melupakan kering dan gersang kemarin..

Taman hijau menghampar bak permadani bumi
Suara alam gegap gempita

Aku ada diantaranya
bersama dengan syair yang aku kumandangkan,
Diiringi dngan syahdu suara alam

Pagiku
yang aku temui,-indah dan
tenang berseri,
setagkup harap bermain bersama mata awalnya hari..
; semua berjalan dalam kilas senyum hati.

SETETES AIR MATA SEULAS SENYUMAN


Inilah penyair yang tak meminta apa-apa
dari manusia kecuali seulas senyuman
Inilah penyair yang penuh semangat dan memenuhi
cakerawala dengan kata-kata indah
Namun manusia tetap menafikan kewujudan keindahannya

Sampai bila manusia terus terlena?
Sampai bila manusia menyanjung penguasa yang
meraih kehebatan dgn mengambil kesempatan??
Sampai bila manusia mengabaikan mereka yang boleh memperlihatkan
keindahan pada jiwa-jiwa mereka
Simbol cinta dan kedamaian?

Sampai bila manusia hanya akan menyanjung jasa org yang sudah tiada?
dan melupakan si hidup yg dikelilingi penderitaan
yang menghambakan hidup mereka seperti lilin menyala
bagi menunjukkan jalan yang benar bagi orang yang lupa

Dan oh para penyair,
Kalian adalah kehidupan dalam kehidupan ini:
Telah engkau tundukkan abad demi abad termasuk tirainya.

Penyair..
Suatu hari kau akan merajai hati-hati manusia
Dan, kerana itu kerajaanmu adalah abadi.
Penyair..periksalah mahkota berdurimu..kau akan menemui kelembutan di
sebalik jambangan bunga-bunga Laurel..

------- ( Khalil Gibran )

AJARKANLAH



Ajarkanlah pada anak-anakmu tentang makna sebuah hidup
terjal dan curamnya,
keras dan lembutnya hati,

Biarkan mereka saja yang mengarungi
apa yang tengah tersirat dibalik isi kepalanya,
Agar mereka dapat mempelajari makna dari untaian bijak,
agar bijak senantiasa menemaninya,
; dari usia belianya yang hijau.

Jikalau ia belajar menyiasati tentang sebuah ingin,
biarkanlah,-dan ajarkanlah bagaimana ia dapat meraih inginnya,
untai impian masa mudanya yang berceriuta dalam bahasa polosnya,
- biarkan mereka meraihnya.

Ajarkan pula pada mereka tentang iman dan ketaqwaan,
Tentang adanya Sang Khaliq,
Yang menciptakan semesta raya
beserta isinya,

Sebelum tidur,
Nyanyikan dan bisikkan telinga mereka
Tentang lantunan suci Ayat-ayat Allah,
Sebagai pelindung dan selimut bagi tidurnya,
; agar senantiasa impian-impian mereka senantiasa
bertumbuh dalam diri mereka.


Biarkan mereka saja yang mengarungi
apa yang tengah tersirat dibenaknya,
Agar mereka dapat mempelajari makna dari untaian bijak,
agar bijak senantiasa menemaninya,
; dari usia mereka yang masih hijau.

Ajarkan pula pada mereka tentang iman dan ketaqwaan,
Tentang kebesaran Sang Khaliq,
Yang menciptakan semesta raya
beserta isinya,

; agar ia semakin bertumbuh dalam kesucian.

DULU



Dulu,
Saat waktu berjalan
Masih mengenang tentang sebuah angan
Satu harap yang berselimut doa

Jauh bersemayam dalam ingatanku
Klasik perjalanan yang mengitar indah
Sebuah fragmen dan romantika
Tentang gelap dan terang
; mungkin juga samar-samar

Dulu,
Saat waktu berjalan
Aku tuliskan beberapa bait kata termegah
Yang kuyakinkan itu adalah keindahan
; sebagai teman tidurmu, wahai impianku...

Dan kecupku dikenigmu itu
bukan makna minor yang aku persembahkan,
Sekedar ungkapan dan gambar rasa sayangku untukmu,
agar kau semakin mengetahui semuanya...

Dulu,
Saat waktu berjalan
Dekapku untukmu sebuah rasa yang menginspirasi dalam satu
imajinasi paparan hati,
Tidak,
Tidak,
Bukan sebuah makna kotor yang aku persembahkan.
Karena ; - ini tentang bahasa hati...

Entah,
Kapan,- dan aku hanya mengenangnya saja.
Kutahu sebuah kenangan sangat mahal harganya,
Tak bisa terbeli dengan sepeser mata uang apapun,
Cukup untuk aku saja yang mengingatnya...

Jauh bersemayam dalam ingatanku
Klasik perjalanan yang mengitar indah
Sebuah fragmen dan romantika
Tentang gelap dan terang
; mungkin juga samar-samar

- namun nyata adanya.


( a.r.i.e / Last kiss version )

Minggu, 30 Mei 2010

CELAH


Purnama kesekian kalinya
-diketika mampu mencumbui pura-pura,

Bisu,
Melompong,
; kosong dan ompong.

Tertawa keras lantang semaunya,
Bersama bercanda dengan para bidadari relung
Sesuka hati dan seadanya saja.

Mencintai keadaan dan mengubur kebosanan
Karena hidup sudah berjalan
bukan berarti harus slalu meninggalkan..

Rabu, 26 Mei 2010

DOA JIWAKU

Pagiku,
Yang aku bangun dengan untaian do'a,
Yang aku rajut dengan segenggam impian,
Berjalan dan meliuki kembali roda hari...
; tanpa letih.

Gelap -berubah
terang dan Menderang
do'a berkumandang ,-semakin meresap
dalam jiwa mencumbui segala mati rasa.
; Bangkit !

Bahagiaku ada dilangit timur,
bersama mentari merayap malu dan pelan
menyinari dunia

Mata membuka
menatap
tajam,-merasuk celah satu harap...
Luka menjadi asa dalam panjat doa Illahiah.

Pagiku,
Yang aku bangun dengan untaian do'a,
Yang aku rajut dengan segenggam impian,

Dunia panggung sndiwara
dengan berbagai lorong-lorong pilihan
Miskin harta dan kaya jiwa,
; mungkin miskin jiwa berlimpah harta.
- semua pilihan.

Mata membuka pelan,- dalam
menatap
tajam,-merasuk celah satu harap...
Bangkitlah aku...
Bangkitlah...

GARIS LINI




Lalu lalang jalang peradaban
-membawa setiap kepribadian meliuki,
Merambah setiap waktu yang dilewati,
; tanpa lelah,- terus dinikmati...

Waktu teman yang singkat,
terkadang dapat dikenang mungkin secepat itu
-dapat terlupa dan dilupakan,
Ragam pemikiran yang sulit untuk ditebak..

Musim berjalan
Mengantar hati pada satu peraduan dan harapan,
Terkadang sia-sia,
Terkadang mampu untuk dipenuhi,
; bahkan terkadang mampu untuk diludahi...

Seperti inikah ?
Laksana ada yang tak dianggap.

Seperti inikah ?
Laksana luka tanpa terbalut kasa.

Padahal awal tidak mengatakan dan menjanjikan hal ini,
Berjalan saja seadanya tanpa keluh dan makian,
Sungguh,
- betapa nikmatnya sepoi angin surga.
Disertai rangkai kata yang dipaparkan indah.

Bukan tentangku,
Tapi, ini tentang satu pemikiran,
Apa dan mengapa,
Sebab dan akibat..

Sungguh,
- betapa nikmatnya sepoi angin surga.
Disertai rangkai kata yang dipaparkan indah.
Aku melayang diangkasa berharap mampu
memetik berjuta bintang.

;tanpa jatuh.

Lalu lalang jalang peradaban
-membawa setiap kepribadian meliuki,

Waktu teman yang singkat,
terkadang dapat dikenang mungkin secepat itu
-dapat terlupa dan dilupakan,
Ragam pemikiran yang sulit untuk ditebak..

; memang begitulah !

Selasa, 25 Mei 2010

JIWA MILIK JIWAKU


Bukankah kau yang mengajarkanku ?
Tentang semua yang ditemui dan menemui ?
Kau pula yang membangkitkan semua rasaku.
; begitu lahiriah adanya.

Kau pernah mengajarkan hidup
yang berarti dalam kehidupan,
-yang dapat menyelaraskan hati
dan segala bijak...

Pernah kau terluka,
namun kau mampu menebarkan senyuman,
tak pernah lelah mengecap pahit
yang begitu manis hadirnya

Airmata sudah mengering,
sudah melupakan perih,
apalagi kesedihan
; yang begitu anggun.

Ketika bersama kau
dibatas pergantian lalu sebuah musim,
Dibatas tanya yang menggeluti,
Kita nikmati suara alam yang bernyanyi
-diantara deru keangkuhan yang tak dapat dibatasi oleh sunyi.

Diatas pelataran taman hati,
Kita berceritera dalam aksara sendiri,
Kau dan aku
; adalah peraduan perasaan yang tersirat,

Airmata sudah mengering,
dan kita sudah bersama lupakan perih,
Pernah kau terluka,
-dan bersama kita hadapi dengan untai senyum.

Kau
adalah aku,
yang bersemayam dalam diriku,
yang terpahat indah dalam relung pusara hatiku,

Diatas pelataran taman hati,
Kita berceritera dalam aksara sendiri,
Kau dan aku
adalah peraduan perasaan yang tersirat,
; yang begitu indah.

Minggu, 23 Mei 2010

PETUALANGAN DAN KEAJAIBAN I


Ini tentang ungkapan hati seorang sahabat....

Badai pertama reda sudah
Sesekali anak taufan masih memekik lemah
Namun lalu berlalu
Meninggalkan porak-poranda disini

Ajaib,
Badai ini terasa indah
Dalam luka dan remuk redam
Hanya senyum dan rasa syukur yang kudesahkan

Tuhanku,
Diantara desir angin dan keperihan
Aku merasakan damai
; Apakah aku telah sakit jiwa ?
- atau aku hanya hidup kembali ?

Apapun adanya,
Aku tak lagi takut akan badai
Karna menyaksikannya berlalu
Adalah anugerah teragung dari-Mu
Adalah kasih sayang terindah dari-Mu

Damainya jiwa ini
Besarnya rasa ini
Welasnya gerak ini
Kuasanya tubuh ini
Memahami kehancuran dan penciptaan

Dalam rasa
Dekap-Mu
Aku bersyukur
Dan berserah diri.



-------------------------- Yulia Hendrastuti. Selatan Jakarta, 23 Mei 2010

Sabtu, 22 Mei 2010

BIANGLALA


Aku temui seuntai garis terhampar didepan kedua
-cakrawalaku...
Membentang tak berbatas hingga ujung
tiada kutemui,

Diatas bumi,
-tempatku berpijak diantara cerita
dan segala kisah,
Aku temui imajinasi yang lama tiada kutemui,

Bidadari musim tengah merajut cadar
irama tentang ketenteraman hati,
Satu rajut senyum membahana sebagai tabir dunia,
; bukan tentang mimpi, bukan pula tentang ilusi.

Tentangmu,
Ya, tentangmu...
; aku paparkan segenap jiwa tanpa berkeluh.

Menikmati segala hidup dalam rimba kehidupan,
Yang ditumbuhi dengan pepohonan penuh rasa cintadan kasih sayang...

Enggan aku berlari darimu,
Meski cakrawala telah memudar,
Meski langit berubah dan berlari memeluk sang kelam,
; tetap bersamamu.

Aku temui seuntai garis terhampar didepan kedua
-cakrawalaku...
Membentang tak berbatas hingga ujung
tiada kutemui,

Bidadari musim tengah merajut cadar
irama tentang ketenteraman hati,
Satu rajut senyum membahana sebagai tabir dunia,
; bukan tentang mimpi, bukan pula tentang ilusi.

- Ini tetangmu,
; tentang cerita kita yang berjalan.

Jumat, 21 Mei 2010

Indonesia mencari bakat ?



Dinding kamarku
adalah usang waktu yang mengurungku,
Disana aku goreskan beberapa impian,
Aku goreskan pula catatan nestapa...

Dinding kamarku
tidak seluas pemikiran orang-orang besar
-ataupun orang pintar yang bermain tiada gentar,
Karena kutahu,
; Orang pintar kini lebih pandai daripada
segala kunci pengetahuan.

Dinding kamarku,
Hanya sekat biasa yang kubentuk
-lewat imajinasi luar biasa,
;Hanya kau dan jiwaku saja
yang mampu menerka segala inginku...

Orang pintar tak punya kamar sepertiku,
Mereka punya uang dari sesuatu yang tersisa,
Sesuatu yang tak berarti dan dibuat arti,
; Lucunya,- uang mereka tak pernah habis.

Hukum yang tadinya tertata rapi,
Kini sudah beragam tradisi yang dibentuk sendiri,
Uang kini mampu berbicara,
; apakah hari kiamat sudah mulai mendekat ?

Disebuah televisi,
Radio,
Bahkan surat kabar,
; hukum sudah dapat dibeli.

Siapa yang memiliki lebih,
-sudah pasti dialah yang mampu menyiasatinya.

Dinding kamarku
adalah usang waktu yang mengurungku,
Disana aku goreskan beberapa impian,
Aku goreskan pula catatan nestapa...
; namun aku mencintai damai

Dinding kamarku
tidak seluas pemikiran orang-orang besar
-ataupun orang pintar yang bermain tiada gentar,
Karena kutahu,
; Orang pintar kini lebih pandai daripada
segala kunci pengetahuan.

Siapa yang memiliki lebih,
-sudah pasti dialah yang mampu menyiasatinya.

Luar biasa...
; kini , Indonesia tengah mencari bakat !

Kamis, 20 Mei 2010

Hymne Hati


Aku adalah putera sang fajar,
Yang melukis mimpi dengan seribu impian,
Mencumbui malam temaram gulita yang pekat,
Mencintai cinta yang mencintai aku....

Aku adalah bagian hati,
Yang menyelimuti inginmu dengan permadani kerinduanku,
Meski letih dan penat semakin menyekat,
; ku tak perduli jika ku begini...

Malamku kini tenang menghibur aku,
Diantara gelap dan redup kerling gemintang...
Diantara temaram enggan rembulan lusuh,
; Dan kumasih tak perduli sejuta yang terjadi.


Aku adalah putera sang fajar,
Yang melukis mimpi dengan seribu impian,
Mencumbui malam temaram gulita yang pekat,
Mencintai cinta yang mencintai aku....

Aku kiprahkan sejuta hasrat mencintaimu,
Aku kobarkan bara hati untuk meyakinkanmu,
terang...Teranglah...
Berlari...dan enyahlah gelap...

Kubiarkan dingin menyergapku,
Ketika fajar mulai membuka mata lupakan lelapnya,
Ketika embun mulai bermain manja dicelah dedaunan...

Engkau cinta,
Seribu mimpi yang pernah temani,
Semua tentangmu...
Semua tentangku,
Semua tentang kita,
Semua tentang mereka,
: Yang sama seperti kita...
Yang memiliki cinta...

Aku adalah putera sang fajar,
Yang melukis mimpi dengan seribu impian,
Mencumbui malam temaram gulita yang pekat,
Mencintai cinta yang mencintai aku....
; Seperti Kasih yang memenjarajan hatiku...

Kepada TUHANKU


Ketika itu,
Kita tak pernah menyadari sebuah kisah yang tengah meluluh lantakkan permukaan bumi Aceh,

Air laut yang hampir menenggelamkan tanah pijak mereka,tumpah,melebur semua impian tentang hari esok mereka,
Tanah retak dahsyat seperti telur yang dipecahkan.


Suara rintih,-suara tangis,-mencari...mencari...
- dimana keluarga kami ??
Bumi bergelimang bangkai,Membusuk,menusuk,mencabik hati dan perasaan relung sanubari.
Ketika itu,-tak pernah pula kita sadari tentang kisah yang menyelimuti...Entah,-sudah berapa kali ibu pertiwi kita harus menangis.
Tentang Ranah Minang yang bergetar...menggetar...hingga bangkai-bangkai kembali terhampar...

Gempa...Apakah suatu hukuman?
Ataukah suatu pertanda,-HARI PENENTUAN-MU akan tiba secepat ini?
Lantas, dimana kami harus bersembunyi?
Dimana? Dimana? Dimana, YA, RABB ?

Rumah kami,tanah kami,negeri kami,...tiada kami temui kembali.
Belum reda tangis ini,belum usai sedih ini,airmata kami...airmata kami...
Bumi layaknya matahari senja yang tenggelam.Air bagaikan lautan menyelimuti kembali kepedihan kami. Saudara kami? Ayah kami? Ibu kami? Anak kami? Dimana harus aku titipkan lagi perih ini,YA,RABB?
Apakah dosa kami tiada terampuni lagi bagiMU,wahai DZAT Maha Melihat,Mendengar,SegalaNYA?

Apakah telah tertutup pula pintu taubat bagi hina raga kami sebagai hamba-MU yang lemah?

Airmata belum bisa mengering.Sungguh...Tak bisa terhenti...
Tuhanku,
dipintu-MU aku mengetuk,mohonkan segala taubat atas khilaf hina hambaMU,

; hanya kepada-MU...


----------------------------------- a.r.i.e ( Dedicated for : Banjir 2010 )

Selasa, 18 Mei 2010

NYANYIAN JIWA YANG BERNYANYI


Aku ada disana,
Aku pun dapat berada disini,
- dan aku dapat berdiri diantara belantara dunia
; kotak teka teki yang penuh dengan beratus-ratus ribu tanya.

Ketika dingin mendekapku,menggigil,-
Membuatku beku,
menggunacang dan bangunkanku, mengajakku berlari...
;- kencang lupakan henti.

Apa yang aku cari ?
Dan terus berlari jauh membawa peluh menyeluruh..

Disebuah persimpangan,
Angan mengajak jiwaku singgah sesaat,
Banyak jiwa sedih yang mati rasa tersesat,
enggan bangkit diantara himpit,
enggan berdiri,-apalagi berlari...
; lelap melewati waktu tidur yang lama...

Terbuai menikmati untaian nyanyian lara
melupakan bongkahan cita jiwanya
-yang dulu pernah ada
hingga...Byaaar!-
; pecah rengkah berkeping debu-debu haru.

Aku tadi ada disana,
Aku kini berada disini,
- berdiri diantara belantara dunia menatap
penuh mimpi dengan beratus-ratus ribu tanya.

Mengapa harus diresapi semua sedih ?
Bukankah kesia-siaan akan terus mengejar dan membunuh ?

Mari,-ikutlah denganku,-bangkit
genggam tanganku erat dan menyatulah kepada jiwaku,
Teruskanlah ceritamu,
lanjutkan saja impianmu.

Hidup sebuah hymne
mungkin juga sebuah mars,-jika kau mau menyanyikannya.
Pilih saja dengan jiwamu.
; hanya jiwamu saja !

Mari,bangkit bersamaku.
Mengukir kembali impian-impian dengan hati dan jiwa,
Jangan resapi semua masa sedih ,- pun sebuah tangis,
Itu akan membunuhmu dengan pisau sia-sia,

Hidup sebuah hymne
mungkin juga sebuah mars,-jika kau mau menyanyikannya.
Pilih saja dengan jiwamu.

; hanya jiwamu saja !

Senin, 17 Mei 2010

CERITA SAHABATKU


Sahabatku berceritera
tentang satu masa yang dialaminya,
menggeluti hari disetiap putaran waktunya
; tiada lelah,-penuh ketegaran.

Sahabatku berceritera,
tentang sayat sembilu yang mengiris-iris rasa
diketika jiwa berjalan menapaki jalan berliku,
-turun,
mendaki,
; dan luka.

Lirih pun memadati ruang indera,
sayup mengembara ditengah hamparan cadas
tajam dan perih terasa...

Kudengar suaranya
tatkala seiring bayu yang menggeliat manja mencumbui aku,
Aku tenggelam dalam arus masanya,-perjalanannya
; suatu untaian masa dalam perjuangannya.

Airmata mungkin tak berarti diketika itu
Hanya semangat besar yang tak ternilai dengan sepeser apapun,
; sungguh ! Begitu aku sangat mengagumi ritme kisahnya.

Sahabatku berceritera
tentang satu masa yang dialaminya,
Ketika hari dan waktu yang angkuh menyergapnya,
; tiada lelah,-penuh ketegaran.


Lirih memadati ruang inderaku,
sayup mengembara ditengah hamparan cadas tak berbatas
tajam dan perih terasa...
; dan semakin aku mengagumi ritme dari tiap kisahnya.

Hidup pun seolah nyanyian panjang,
Atau mungkin seperti hymne yang berkumandang,-merjan dalam ketidakpastian
- yang tak pernah berhenti menghadang
dalam tiap detik menembus jalan penuh ilalang.

Airmata mungkin tak berarti diketika itu
Hanya semangat besar yang tak ternilai dengan sepeser apapun,
; hidup sungguh penuh warna, wahai sahabatku
Nikmatilah setiap warnanya,
Pilih warna kesukaanmu,
- goreskanlah pada lembar kertas barumu.
Lukislah sesuka hatimu,

;-begitu aku memaparkannya.

Minggu, 16 Mei 2010

YANG TERKASIH


" Ribuan kilo jalan yang kau tempuh,lewati rintang
; demi aku anakmu..
Ibuku sayang, masih terus berjalan,
; walau tapak kaki penuh darah penuh nanah...

Seperti udara kasih yang engkau berikan,
tak mampu kumembalas,
; ibu...."

Masih terngiang-kah dalam benak kita ?
Tentang arti seorang ibu,
Masih terbersitkah dibenak kita ?
; Tentang hadirnya kita menatap dunia,
Tentang suatu ikhwal yang menjadikan kita
mampu menapaki hari-hari dari liuk dan putar sang waktu ?

Suara tangis kita untuk pertama kalinya,
Tatap mata kita untuk awal kalinya kita menyaksikan fragmen dunia,

Sentuhan penuh rasa kasih yang terbalut cinta
; yang tak pernah ada habisnya,
- hingga kini, saat mata belum terpejam lama.


"Kemarilah, anakku..Dekat dan duduklah dipangkuan ibumu,"
Begitu yang kerapkali terdengar,
- disaat langkah kita awal kalinya untuk menapaki dunia..
Dan belaian,
Sentuhan,
Kecupan itu pula yang menjadikan kita semakin mampu
; menatap dunia plus - minus

Terbersitkah dibenakmu ?
Pikirmu ?
Rasamu ?
Diketika kini renta yang kau lihat,
Keriput yang terlukis padanya,
; tak seperti yang dulu..

Mampukah kini kita menggantikan perannya ?
Menggantikan tentang apa yang pernah ia berikan dulu ?
Menggantikan perannya tentang sebuah kasih dan sayang
; yang ia pancarkan .

Ibu,
Tak ada satu kasih yang mampu menggantikan kasihmu,
Tak ada satu cinta yang besar yang mampu menggantikan
segala ketulusan cintamu.

Jangan,
Jangan sakiti hati ibu,
Jangan,
Jangan hardik ia ketika pikun tengah menimpanya,
; itu bukan inginnya.

Ketika masa kanak kita dulu berpindah padanya kini,
Saat gemetar bibirnya mengeja sebuah nama dan tiada sengaja
-melakukan kesalahan,
Janganlah maki ibumu...
; itu bukan inginnya.

Ibu,
Tak ada satu kasih yang mampu menggantikan kasihmu,
Tak ada satu cinta yang besar yang mampu menggantikan
segala ketulusan cintamu yang mengalir dalam persendian dan darahku.

Sayangilah ibu,
Cintailah ibu,
Meski tidak secantik paras yang kau kenal dulu,
Meski tinggal lemah suaranya yang kini kita dengar,
; dia tetap ibu.

Jangan,-
Jangan sakiti hati ibu,
Jangan,
Jangan hardik ia ketika pikun tengah menimpanya,

;karena semua itu bukan inginnya.
sama seperti kita kecil dulu...


( syair ini didedikasikan untuk IBU )

Jumat, 14 Mei 2010

BUKAN PORNO-GRAFICIOUS


Apa yang tengah kau rasakan ?
Ketika jemariku bermain
membelai pelan dua pipimu,
-ketika bisikanku menyapa ragamu
dibalik daun telingamu.

Apa yang tengah kau rasakan,wahai perhiasan hati ?
Ketika tatapku menatap tajam
merasuk dalam kedua bola matamu,
-ketika larutku tenggelam dalam kecantikanmu.

Sungguh,
Tak dapat aku paparkan,
Aku lumpuh rasa,
Aku terbuai,
; terbelenggu dalam rasa yang kau beri..

Ketika kau peluk,
Kau bisikkan :
"Betapa aku merindukan setiap detik nafas
bersamamu..."

Sungguh,
Tak dapat aku paparkan,
Aksara bungkam dalam bibir yang terkatup rapat.

"Aku dan dirimu
seperti apa yang pernah mereka rasakan.
Sebuah cinta yang penuh misteri.."
- tidurlah dalam buaianku,
rasakan setiap rindu ditiap detik yang kita lewati.

Kekasihku,
Apa yang tengah kau rasakan ?
Ketika jemariku bermain
membelai pelan dua pipimu,
-ketika bisikanku menyapa raga dan bangkitkanmu
dibalik daun telingamu.

Sungguh,
Tak dapat aku paparkan gegap gempita hati saat ini,
Aku lumpuh rasa,mati,
Semakin terbuai dalam alunan perasaanmu,
; terbelenggu dalam imaji hati yang kau beri..

Kau dan aku,
; bukan siapapun .

Kamis, 13 Mei 2010

ARMAGEDON


Ketika itu,
Saat itu,
Waktu keruh,
Berubah berpeluh.

Jiwa hambar,
Menggelepar,
Terlempar,
;Lapar.

Purnama memudar,
Gelap menyekapa dalam raut penuh kelam,

Jiwa meronta dalam tanya,
Apakah ini ?
Tentang apa ini ?
Mengapa ini ?
Dimana kini ?
Terus dan tiada henti
-membingungkan diri sendiri...

Perahu retak,
Airmata disana-sini,

Dimana,wahai sahabat hati ?
Mencarimu hingga ujung persada dunia,
; tak kunjung bertemu...
Dan dimana lagi harus kaki ini dijejakkan.

Mungkinkah SANG RAJA murka ?
Karena sudah tidak ada lagi kasih sayang diri
untuk mengasihi dengan tulus penuh rasa cinta
yang terjadi di bumi ini.

Dimana,wahai sahabat hati ?
Mencarimu hingga ujung persada dunia,
; tak dapat meraih wujud dan jasadmu.

Ketika itu,
Saat itu,
Waktu keruh,
Berubah berpeluh.

Jiwa meronta dalam tanya,
Apakah ini ?
Tentang apa ini ?
Mengapa ini ?
Dimana kini ?
Terus dan tiada henti
-membingungkan diri sendiri...

; Semua rata tak berbekas.

Rabu, 12 Mei 2010

PENCINTA GILA


Aku memilihmu
bukan untuk mengharapkanmu mencintai aku
Aku memilihmu
untuk sekedar menyelami satu hal yang terlahir
dari dalam bongkahan hatiku,

Aku memilihmu
-dengan satu tujuan dapat menikahi perasaanmu
Kusandingkan pada rasa dan perasaanku,
Seperti pengantin liukan masa yang tengah mencumbui
kehidupannya.

Aku memang gila,
Dan terlahir untuk menggilakan kau
-yang kelak tergila-gila padaku,

Nikmati saja gegap gempitaku yang gila,
tapi, untukmu saja.
; karena kuyakin,
-rasa kesalmu semakin membuatku gila.

Biarkan aku memilihmu saja,
untuk kujadikan potret imaji dan kupajang
pada dinding hatiku,

Kesedihan sudah berlalu,
Luka pun sudah sirna,
Karena gilaku menggilakanmu,
; ya !

Selasa, 11 Mei 2010

PIJAR PILAR


Sebuah kenangan pahit yang kukecap manis,
Seuntai harapan besar yang menyusut kecil....dan memudar.
; Pecah....

Apa yang tengah aku cari?
Dalam hiruk pikuk waktu yang berlari..

Apa yang aku cari ?
Diketika celoteh bising tiada henti.

Duniaku,
Dunia penuh warna,
Bertabur bintang,
Bermahkota rembulan...

Duniaku,
Tak terhingga warna yang aku goreskan pada canvas hidupku,
Menghiasi lembaran-lembaran sebuah catatan harian dalam waktu berjalan...

Duniaku,
Terbingkai dua warna ; hitam dan putih,
Melalui lorong-lorong senja yang berganti pagi,
Melalui suka dan meliuki nestapa...

Apa yang aku cari?
Sebuah pasti dalam arti...

Seperti engkau yang bermimpi ?
Seperti aku yang menggeluti impian.

Celoteh kosong berbau gosong,-Panas dan hanguskan inderaku,
Menyayat hati seolah 'ku tak berarti...

Padahal sepertimu,
Yang mengagumi mimpi menjadi impi,
Sama saja...
Berawal dari lembaran kertas yang putih.

Bukan,
Bukan kepada kau aku bakar api ini,
Bukan ,
Bukan pula engkau yang membakar ini,
; jangan kau halangi. Apa inginku kini...

Sebuah kenangan pahit yang kukecap manis,
Seuntai harapan besar yang menyusut kecil....dan memudar.
; aku nikmati seadanya,
seperti jamuan malam yang tersaji diatas meja makan.

Begitu lahap aku santap,
Begitu saja..

Duniaku,
Dunia penuh warna,
Bertabur bintang,
Bermahkota rembulan...
Malam dan pagi menghiasi ragaku...

Duniaku,
Tak terhingga warna yang aku goreskan pada canvas hidupku,
Menghiasi lembaran-lembaran sebuah catatan harian dalam waktu berjalan...
Sepertimu,
; Aku pun punya impian,
Yang aku susun pada sebuah album relung hati,

Ya...


FILE ( For Individual Lost Ego )

EGOLIPTHYCA

Bukan sebuah syair sentimentil yang tengah aku lantunkan,
-hanya untaian kata kecil sebagai pelepas penat diri jauh dari kurungan waktu lalu,

Ketika sayupku memanggilmu,-ketika harapku menginginkan jasad hidupmu
menyandingi setiap langkah kecil disetiap putar hari,
Mugkinkah terdengar ?
atau mungkin lirih yang kau rasa ?

Bukan tentang paksa yang mengharuskanmu,
ikhlas yang bersenandung senantiasa bertutur sapa padamu,
-untuk tinggal sejenak dan temani sunyiku...

Hari esok memanglah sebuah teka-teki waktu,
Namun apakah kita harus terpaku saja ?- tanpa harus memikirkan
sebuah kisah tentang esok hari ?

Kau berpangku tangan dibalik cadar kelam
Yang memeluk tanya dalam aksara bisu,
-yang sulit bagiku untuk menerka reka raut inginmu...

Mugkinkah terdengar ?
atau mungkin lirih yang kau rasa ?
Ketika sayupku memanggilmu,-ketika harapku menginginkan jasad hidupmu
untuk tinggal sebentar menemani aku...

Kau masih terdiam
Dalam segenap tanya yang memenjarakanku,
-tanpa rasa yang aku mengerti...

Datanglah meski sesaat padaku,
Agar aku bisa mengajarkanmu tentang cinta dan bahasa hati,
Seperti hektar taman yang pernah kita lalui waktu lalu,
Seperti airmata yang mengalir dikedua bola mata kita,
-saat kita merenungi dan meresapi makna diri...

Bukan sebuah syair sentimentil yang tengah aku lantunkan,
-hanya untaian kata singkat sebagai pelepas penat diri jauh dari kurungan waktu lalu,
Untuk saling kita pahami arti sebuah rasa,
Arti sebuah cinta yang begitu ego untuk kita lalui...

; itu saja !

Senin, 10 Mei 2010

CINTA KEKUATAN HATI YANG BICARA


Duniaku,
Dunia penuh ragam warna
-yang aku goreskan pada selembar kertas putih

Duniaku,
Dunia penuh segala kisah cinta
-suka,sedih,canda,tawa,yang bermain penuh keindahan
dalam putaran waktu yang membungkus setiap perjalanannya.

Kutemui awal yang penuh dengan goresan masa
-bersenda gurau dan mencumbui disetiap mimpi perjalanan hari.
Bukan tentang kesendirian,
-bukan pula tentang sia-sia dan belaka.

Ketika cinta yang bersemi,
seperti pelataran taman yang ditumbuhi hijau rumputnya,
diantara segarnya dedaunan dan indahnya pepohonan.

Dan aku ikuti segala ingin,
Berlari dan menyusuri setiap sisi hijau tamannya,
-memetik buahnya, menikmati rasanya, dan berbagi dengan tulus hati yang bersenandung.

Sepertimu yang tengah merasakan aura cintanya,

Duniaku,
Cinta yang membangunkan rasa kasih,
Cinta pula yang menyelimuti jasad dalam tulus hati yang bicara,

Bukan untukku,
Bukan pula untukmu,
Namun untuk mereka yang memili rasa cinta yang mencintai cinta.
; begitu saja !

CINTA KERAMAIAN YANG SUNYI

Dimana engkau,wahai penjaga hati
Diketika ragaku memanggilmu...-saat waktu semakin memusuhi aku,
Diketika malam menangis pilu,-diantara belukar kelam yang menjenuhkan..
Buta,
Aku buta,
-mataku terkatup tak dapat menatap rona aura disekitarku.
Perih,
-perih sekali
Rembulan memangku dalam kelam temaram
sunyi dan senyap,
sepi terkurung seperti nyawa yang terkubur...
Aku ada ditengah belantara bisu
bersama kekasih yang kudapatkan dalam keramaian senyap.
Mencarimu,-entah dimana ?
Tak kutemui disetiap titian jalan hariku,
; aku buta...buta aku...
- namun hatiku,tidak buta..
Dimana engkau, penjaga hatiku
Saat ragaku memanggilmu,- saat dingin semakin menikamku.
; mencarimu sulit,-tak kutemui dimanapun langkah mencari.
Mengertilah,
; meski hanya saat ini saja.